Nabi Mikha
A.
Mikha
Nabi mikha lahir
di kampung Moresyet, 30 km di sebelah Barat Daya Yerusalem (bdk. Mik.1:1), yang
di sebut juga Moresyet Gat (bdk Mik. 1:14). [1]Tempat
ini merupakan kota di antara wilayah pegunungan dan pesisir pantai, yang masuk
wilayah Filistin. Posisi kampung ini menjadi
sangat penting untuk memahami warta Nabi Mikha. Kampung dan penduduknya
orang kecil dan miskin menjadi korban perampasan tanah. [2]Mikha
mulai tugas kenabiannya pada masa Yotam berkuasa di Yehuda (742-735), ketika
kerajaan Yehuda dan Israel mendekati akhir masa-masa keemasnya.
Mengenai siapa Nabi Mikha tidak
banyak diketahui secara langsung dari kitab-kitabnya seperti nabi-nabi yang
lain. Ada yang mengatakan bahwa Mikha adalah warga kampung biasa (smith), warga
sederhana (Sellin). Mungkin juga Mikha adalah seorang penting, anggota tua-tua,
di kampungnya Moresyet (Wolff). Mikha boleh jadi seorang warga kampung yang
miskin, penyewa lading atau pemilik lading (Rudolph).
Dugaan Wolff bboleh jadi dekat
dengan kenyataan bahwa Mikha adalah seorang dari tua-tua di Morsyet. Dalam
kitab suci, fungsi para tua-tua adalah penjaga keadilan di kampungnya
masing-masing (bdk. Ul. 19:12; 21:1-4, 6-20; Rut. 4:1-12; 1 Sam. 30:26; 1 Raj.
8:1; 2 Raj. 13:1; 2 Taw. 19:5-8). Sebagai tua-tua kampung, ia sangat berperan
di kampung itu.
B.
Situasi Zaman
Nabi Mikha
Situasi pada zaman Nabi Mikha di
mana di menghadapi nabi-nabi palsu. [3]Di
mana pada waktu itu dia berbicara tentang apa yang di perintahkan oleh YHWH
kepadanya, tapi pada masa itu justru sebaliknya para nabi berbicara kalau di
suap. Mereka adalah nabi palsu. Dengan amat tajam dan sarkastis Mikha
melukiskan siapa nabi palsu itu, “ yang menyesatkan bangsa YHWH”. Nabi Mikha
sungguh sadar apa dan siapa seorang nabi, karena dia adalah nabi yang benar.
Selain pewartaan nabi palsu. [4]Mikha
juga menyaksikan bahwa ketidakadilan dan eksploitasi teerhadap orang-orang
miskin akan membawa Yerusalem dan Samaria menuju kehancuran. Mikha dan nabi
sezamannya, Yesaya, terkejut menyaksikan perilaku korupsi, baik yang dilakukan
oleh pemimpin masyarakat maupun pemimpin agama (Mik 3)
C.
Jenis Pewartaan
Seperti halnya
Amos, [5]Mikha
melihat ketidakadilan sosial sebagai kejahatan yang harus dibalas (2:1-3;
6:9-11). Ia begitu menekankan pengadilan Allah yang dan kejahatan-kejahatan
yang serupa. Lebih jauh daripada Amos, ia melihat juga hari ketika Tuhan
menjadi raja dan Sion jaya (4-5). Dalam ucapannya yang paling terkenal (6:8),
ia menyampaikan pesan sebagai rangkuman pewartaan pendahulu dan nabi-nabi
sezamannya : “ Hai manusia telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan
apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil (=Amos), mencintai
kesetiaan (=Hosea), dan hidup dengan randah hati (=Yesaya) di hadapan Allah
mu.?”
Dalam pewartaan Mikha pandangan
teologisnya sangat dekat dengan Amos. Kedekatan dan kesejajaran pandangan
teologis itu tampak, misalnya dalam:
·
Menolak
tradisi suci yang satu-satunya atas Yerusalem dan Sion (terutama yang
menyangkut Bait Allah dan institusi kerajaan)
·
Wartanya
sangat sedikit menyinggung Dinasti Daud (mengambil jarak dari lingkup
kekuasaan/kerajaan)
[6]Bagi Mikha
ketidakadilan dan penindasan tidak sepadan (compatible)
dengan Yahwisme. Kritik yang dilontarkan Nabi Mikha bukan hanya ketidakadialan
melainkan terhadap suatu “Teologi Penidasan”
para pemimpin di Yerusalem sedemikian yakin bahwa mereka akan selamat karena
kota suci Yerusalem, Sion.
·
Para
petinggi militer
Alamat
pertama dari kritik tajam Nabi Mikha adalah para petinggi militer yang ada di
pusat pemerintahan (bdk. Mik. 21-11). Jalan utama masuk ke palestina adalah
Akko, sedangkan Moresyet-Gat adalah stasiun militer untuk menghadang invasi
dari luar. Dalam keadaan invasi luar para petinggi militer tinggal di stasiun
atau barak mereka bersama orang kampung, tetapi ketika ancam musuh tidak ada,
namun apa yang terjadi.? Para petani kampung dipaksa menjual tanahnya kepada
para petinggi militer itu. Yang lebih ironis lagi bukan hanya tanah, rumah dan
orangnya sendiri harus dijual. Perampasan tanah, rumah dan orangnya adalah hal
yang sangat bertentang degan taurat yang di tetapkan oleh YHWH (bdk. Kel.
20:17;19:13).
·
Para
penatua yang tidak becus
Kelompok
kedua yang dikritik tajam oleh Nabi Mikha adalah koleganya, para tua-tua
penjaga gawang pertama dari keadilan. Ada dua tuduhan Mikha terhadap koleganya
(penetua): merobek kulit dari tulang (bdk. 1 Raj. 9:15-24; 12:6-16), rakus akan
uang: “membangun Sion dengan darah”.
Mungkin
saja Mikha sebagai penetua melihat bahwa teman-temannya tidak becus. Boleh jadi
Mikha bukan hanya orang penting di kampungnya Moresyet, tetapi juga di
Yerusalem (bdk. Mik. 1:1).
Nabi
membongkar kebusukan Yehuda (Mikha 2:1-12)
D.
Hal yang menarik
[7]Mikha
mengingatkan kita akan perhatian Allah pada orang-orang miskin. Mikha
mengajarakan kepada kita untuk menghormati Allah melalui hidup yang baik dan
menyembah Allah dengan cara benar. [8]Mikha
sebagai Nabi Allah memiliki mata Allah yang memandang segala sesuatunya
berdasarkan kaca mata Allah. Kalau sudah begitu maka segala kejahatan manusia
tidak akan lolos dari pandangannya. Didalam pasal ke 2 Nabi membicarakan
kejahatan umat Tuhan.
Salah satunya:
1.
Kejahatan Yehuda
Hal
yang pertama Mikha menegur dengan keras para pelaku kejahatan. baik kasus
kekerasan, penindasan, pemerasan maupun penumpahan darah. Kejahatan yang paling
besar yang dipendam dalam hati dan hal ini sangat terbalik degan ajaran Kristus
yang mengatakan “apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa,
janganlah matahari terbenam sampai padam amarahmu (Ef 4:26). Saudara melihat
Mikha menegur dengan keras dosa-dosa terencana yang dilakukan oleh orang-orang
Yehuda pada saat itu yaitu kasus kejahatan penyerobotan tanah.
2. Pemberita palsu
Kalau yang pertama Mikha membongkar kejahatan Yehuda karena kasus penyerobotan
tanah, maka kejahatan yang kedua Mikha
membongkar kejahatan Imam. Dan inilah salah satu faktor penyebab yang merusak
iman Yehuda. Jikalau Imam rusak maka masyarakatpun akan rusak, jikalau gereja
sesat maka masyarakat juga sesat. Ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan.
[1]
Lih. Bibel Warisan Iman, Sejarah Dan Budaya, hlm. 160-161
[2]
Lih. A Catholic Guide to the BIBLE, memahami dan menafsir Kitab Suci Secara
Katolik, hlm. 151
[3]
Ibid. Bibel Warisan Iman, Sejarah Dan Budaya, hlm. 162-165
[4]
Ibid. A Catholic Guide to the BIBLE, memahami dan menafsir Kitab Suci Secara
Katolik, hlm. 151
[5]
Lih. Membaca Kitab Suci, Mengenal Tulisan-tulisan Perjanjian Lama, hlm. 104
[6]
Ibid. Bibel Warisan Iman, Sejarah Dan Budaya, hlm. 162-165
[7]
Ibid. A Catholic Guide to the BIBLE, memahami dan menafsir Kitab Suci Secara
Katolik, hlm. 151
Tidak ada komentar:
Posting Komentar