Dayak
merupakan salah satu suku yang tak pernah ketinggalan dari adat dan tradisinya
yang selalu bergantung pada alam. Sebelum nenek moyang orang dayak mengenal
Tuhan mereka sudah mengenal sang pencipta yang Disebut Ponompo (ribun)/jubata
(kanayatn)/ yang artinya sang pecipta yang sekarang disebut Tuhan. Istilah Dayak dipakai oleh colonial Belanda[1]
untuk melalukan kegitan mereka di tanah Borneo. Masyarakat
dayak khususnya dayak
ribun yang mengganti konsonan huruf awal (R) dengan huruf (H) menjadi Hibun.
Dayak Hibun yang telah melahirkan seorang bayi akan
dimandikan sebagai bentuk rasa syukur terhadap hidup yang telah diberikan oleh
Ponompo. Suku Dayak melakukan ritual adat mulai dari kelahiran sampai kematian,
hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hidup. Tradisi memandikan bayi hampir
punah dan bahkan saat ini banyak sekali keluarga baru yang tidak mengenal adat dan tradisi “TANDE’I” ini.
Air
merupakan unsur kehidupan yang tidak bisa dipisahkan, air merupakan hal yang
sangat utama sebagai tanda
bahwa
orang memiliki kesuburan,
kesejahteraan dan kesegaran dalam hidup. Memandikan
bayi sebagai bentuk awal manusia berinteraksi dengan alam yang di wujudkan pada
Air tadi. Adat dayak memang sangat unik sebagian besar kehidupannya dilakukan
dengan ritual, bagi mereka ritual merupakan hal yang paling baik sebagai bentuk
kedekatan mereka pada sang pencipta. Banyak adat Tradisi orang dayak yang tidak
dapat dituliskan karena orang dayak sendiri tidak mau melestarikan. Ada yang
beranggapan tidak penting, udah modern, sudah tidak keren lagi katanya, hal ini
yang selalu diutarakan orang dayak, bahkan anak-anak tahun 2000-an sudah tidak
pernah melihat ritual yang unik-unik itu tadi. Anak-anak mengatakan hal ini
sangat kuno karena dunia sudah modern mengapa harus dilestarikan.
A.
Orang
dayak hibun dan adatnya
Penduduk Dayak sangat berpegang teguh pada budaya dan
adat istiadat, mereka selalu paham akan gejala-gejala alam yang memberi
tanda-tanda
kehidupan. Pada acara mandi bayi yang dilakukan setiap
bayi yang baru lahir harus dibawa dan diperkenalkan pada alam sekitar supaya si
bayi dapat beradaptasi saat di manapun bayi itu berada. Orang suku dayak Ribun
atau biasa disebut hibun dengan bahasa bi’bun, menggunakan tradisi memandikkan
bayi ke sungai mirip sekali dengan acara pembaptisan yang dilakukan oleh
Yohanes waktu membaptis Yesus di sungai Yordan (Bdk. Luk 3:21). Pada perkembangannya
orang hibun sendiri mulai tidak membawa bayi mereka pada sungai karena melihat
dan mengingat sungai sudah mulai tidak bersih dan sudah mulai tidak ada air.
Ini semua karena ulah tangan manusia itu sendiri, meskipun sudah tidak dilakukan
di sungai tapi masih bisa dilakukan di dalam rumah yang terpenting adalah
adatnya dan tata cara yang tidak dihilangkan.
Memandikan bayi ke sungai ini masih tetap terjaga
meskipun banyak orang Hibun yang mulai meninggalkan adat ini. Saat ini pula
memang orang tua harus berperan penting dalam pelestarian budaya ini, karena
apabila orang tidak melalukan adat tradisi ini otomatis anak-anaknya tidak
mengetahui adat dan tradisi ini. [2]Semakin
orang Dayak Hibun mengenal agama orang Dayak yang identik beragama Katolik lalu
melaksanakan sakramen permandian saat anak mereka sudah siap dipermandikan.
Adapula orang tua yang melakukan permandian secara adat dan secara katolik.
Kedua-duanya sama saja di siram oleh air dan di tenggelamkan atau dicelupkan ke
air. Namun ada yang beranggapan bahwa jika adatnya belum dilalukan belum terasa
pas dan komplit mereka merasa lebih mantap apabila melakukan adat dan tradisi
ini diselaraskan dengan Sakramen Baptis pada Gereja Katolik.
b. Alam pikir orang Dayak
Adat Tradisi Dayak memang sangat mirip dengan ritus
dan ajaran Gereja ada pula kisah penciptaan orang Dayak yang dilalukan oleh
sang Pencipta sangat mirip dengan kitab Kejadian[3]. Nenek
moyang sangat percaya adanya sang pencipta yang menciptakan alam beserta isinya
dan manusia harus menjaga, merawat dan melestarikan alam serta selalu bersyukur
dan menyembah sang pencipta itu dengan apapun caranya. Hal ini sangat mirip
dengan ajaran Yesus dan amanat yang diberikan Allah pada Adam dan Hawa untuk
menjaga, merawat dan melestarikan alam yang telah diciptakan itu.
Hampir semua cerita tentang alam beserta isinya ini
pada subsuku Dyak hampir mirip hanya saja pada versi ceritanya sesuai dengan
kearifan lokal di masing-masing wilayah. Namun tidak menghilangkan ciri khasnya
dalam cerita di masing-masing wilayah. Cerita-cerita itu mengandung makna
masing-masing pada setiap subsukunya menurut nenek moyangnya masing-masing.
Sebutan sang pencipta biasa disebut PONOMPA yang artinya Allah/Tuhan yang kita
kenal saat ini. Semakin berkembangnya agama Katolik di tengah-tengah orang
Dayak sedikit mengubah pandangan masyarakat tentang hal-hal gaib yang tidak
terlalu penting dan dapat membahayakan orang dayak itu sendiri. Seperti pellet,
pullong, jimat dan minta kekuatan yang dapat membahayakan si penggunanya.
Pemahaman orang Dayak hibun pada Tande’i itu pun semakin
di sempurnakan oleh Sakramen Baptis di Gereja Katolik yang di siram/dicelupkan
dengan air pun sangat mirip dengan tata cara Tande’i itu tadi. Meskipun sudah modern namun perlu pula
melestarikan apa yang sudah di buat dan dipakai selama bertahun-tahun. Meskipun
moden tapi apa salahnya adat istiadat itu dilestarikan, ini merupakan kekayaan
alam dan keunikan yang tidak dimiliki oleh budaya di luar Kalimantan. Kegiatan
ini perlu dikembangkan supaya budaya tradisi yang ada dimasyarkat dapat
dinikmati masyarakat sampai kapanpun. Masyarakat diharapkan bukan hanya
menonton tradisi mereka namun melaksanakan tradisinya serta tau maksud dan arti
dari sebuah adat.
Daftar
Pustaka
Muhrotein, Andreas. 2012. REKONTRUKSI IDENTITAS DAYAK. Yogyakarta:
TICI Publications
Alloy, Sujarni, DKK. 2008. MOZAIK DAYAK KEBERAGAMAN SUBSUKU DAN BAHASA DAYAK. Pontianak:
Institut Dayakologi
[1] Sujarni Alloy,
DKK, MOZAIK DAYAK KEBERAGAMAN SUBSUKU DAN
BAHASA DAYAK DI KALIMANATAN BARAT, Hal:11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar