Rabu, 25 Juli 2018

MANDI BAYI PADA SUKU DAYAK HIBUN SANGGAU “TANDEI’I Oleh: Yosinta Bonata (1500039)


Dayak merupakan salah satu suku yang tak pernah ketinggalan dari adat dan tradisinya yang selalu bergantung pada alam. Sebelum nenek moyang orang dayak mengenal Tuhan mereka sudah mengenal sang pencipta yang Disebut Ponompo (ribun)/jubata (kanayatn)/ yang artinya sang pecipta yang sekarang disebut Tuhan. Istilah Dayak dipakai oleh colonial Belanda[1] untuk melalukan kegitan mereka di tanah Borneo. Masyarakat dayak khususnya dayak ribun yang mengganti konsonan huruf awal (R) dengan huruf (H) menjadi Hibun. Dayak Hibun yang telah melahirkan seorang bayi akan dimandikan sebagai bentuk rasa syukur terhadap hidup yang telah diberikan oleh Ponompo. Suku Dayak melakukan ritual adat mulai dari kelahiran sampai kematian, hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hidup. Tradisi memandikan bayi hampir punah dan bahkan saat ini banyak sekali keluarga baru yang tidak mengenal adat dan tradisi “TANDE’I” ini.
Air merupakan unsur kehidupan yang tidak bisa dipisahkan, air merupakan hal yang sangat utama sebagai tanda bahwa orang memiliki kesuburan, kesejahteraan dan kesegaran dalam hidup.  Memandikan bayi sebagai bentuk awal manusia berinteraksi dengan alam yang di wujudkan pada Air tadi. Adat dayak memang sangat unik sebagian besar kehidupannya dilakukan dengan ritual, bagi mereka ritual merupakan hal yang paling baik sebagai bentuk kedekatan mereka pada sang pencipta. Banyak adat Tradisi orang dayak yang tidak dapat dituliskan karena orang dayak sendiri tidak mau melestarikan. Ada yang beranggapan tidak penting, udah modern, sudah tidak keren lagi katanya, hal ini yang selalu diutarakan orang dayak, bahkan anak-anak tahun 2000-an sudah tidak pernah melihat ritual yang unik-unik itu tadi. Anak-anak mengatakan hal ini sangat kuno karena dunia sudah modern mengapa harus dilestarikan.
A.    Orang dayak hibun dan adatnya
Penduduk Dayak sangat berpegang teguh pada budaya dan adat istiadat, mereka selalu paham akan gejala-gejala alam yang memberi tanda-tanda

kehidupan. Pada acara mandi bayi yang dilakukan setiap bayi yang baru lahir harus dibawa dan diperkenalkan pada alam sekitar supaya si bayi dapat beradaptasi saat di manapun bayi itu berada. Orang suku dayak Ribun atau biasa disebut hibun dengan bahasa bi’bun, menggunakan tradisi memandikkan bayi ke sungai mirip sekali dengan acara pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes waktu membaptis Yesus di sungai Yordan (Bdk. Luk 3:21). Pada perkembangannya orang hibun sendiri mulai tidak membawa bayi mereka pada sungai karena melihat dan mengingat sungai sudah mulai tidak bersih dan sudah mulai tidak ada air. Ini semua karena ulah tangan manusia itu sendiri, meskipun sudah tidak dilakukan di sungai tapi masih bisa dilakukan di dalam rumah yang terpenting adalah adatnya dan tata cara yang tidak dihilangkan.
Memandikan bayi ke sungai ini masih tetap terjaga meskipun banyak orang Hibun yang mulai meninggalkan adat ini. Saat ini pula memang orang tua harus berperan penting dalam pelestarian budaya ini, karena apabila orang tidak melalukan adat tradisi ini otomatis anak-anaknya tidak mengetahui adat dan tradisi ini. [2]Semakin orang Dayak Hibun mengenal agama orang Dayak yang identik beragama Katolik lalu melaksanakan sakramen permandian saat anak mereka sudah siap dipermandikan. Adapula orang tua yang melakukan permandian secara adat dan secara katolik. Kedua-duanya sama saja di siram oleh air dan di tenggelamkan atau dicelupkan ke air. Namun ada yang beranggapan bahwa jika adatnya belum dilalukan belum terasa pas dan komplit mereka merasa lebih mantap apabila melakukan adat dan tradisi ini diselaraskan dengan Sakramen Baptis pada Gereja Katolik.  
b. Alam pikir orang Dayak
Adat Tradisi Dayak memang sangat mirip dengan ritus dan ajaran Gereja ada pula kisah penciptaan orang Dayak yang dilalukan oleh sang Pencipta sangat mirip dengan kitab Kejadian[3]. Nenek moyang sangat percaya adanya sang pencipta yang menciptakan alam beserta isinya dan manusia harus menjaga, merawat dan melestarikan alam serta selalu bersyukur dan menyembah sang pencipta itu dengan apapun caranya. Hal ini sangat mirip dengan ajaran Yesus dan amanat yang diberikan Allah pada Adam dan Hawa untuk menjaga, merawat dan melestarikan alam yang telah diciptakan itu.
Hampir semua cerita tentang alam beserta isinya ini pada subsuku Dyak hampir mirip hanya saja pada versi ceritanya sesuai dengan kearifan lokal di masing-masing wilayah. Namun tidak menghilangkan ciri khasnya dalam cerita di masing-masing wilayah. Cerita-cerita itu mengandung makna masing-masing pada setiap subsukunya menurut nenek moyangnya masing-masing. Sebutan sang pencipta biasa disebut PONOMPA yang artinya Allah/Tuhan yang kita kenal saat ini. Semakin berkembangnya agama Katolik di tengah-tengah orang Dayak sedikit mengubah pandangan masyarakat tentang hal-hal gaib yang tidak terlalu penting dan dapat membahayakan orang dayak itu sendiri. Seperti pellet, pullong, jimat dan minta kekuatan yang dapat membahayakan si penggunanya.
Pemahaman orang Dayak hibun pada Tande’i itu pun semakin di sempurnakan oleh Sakramen Baptis di Gereja Katolik yang di siram/dicelupkan dengan air pun sangat mirip dengan tata cara Tande’i itu tadi.  Meskipun sudah modern namun perlu pula melestarikan apa yang sudah di buat dan dipakai selama bertahun-tahun. Meskipun moden tapi apa salahnya adat istiadat itu dilestarikan, ini merupakan kekayaan alam dan keunikan yang tidak dimiliki oleh budaya di luar Kalimantan. Kegiatan ini perlu dikembangkan supaya budaya tradisi yang ada dimasyarkat dapat dinikmati masyarakat sampai kapanpun. Masyarakat diharapkan bukan hanya menonton tradisi mereka namun melaksanakan tradisinya serta tau maksud dan arti dari sebuah adat.



Daftar Pustaka
Muhrotein, Andreas. 2012. REKONTRUKSI IDENTITAS DAYAK. Yogyakarta: TICI Publications
Alloy, Sujarni, DKK. 2008. MOZAIK DAYAK KEBERAGAMAN SUBSUKU DAN BAHASA DAYAK. Pontianak: Institut Dayakologi


[1] Sujarni Alloy, DKK, MOZAIK DAYAK KEBERAGAMAN SUBSUKU DAN BAHASA DAYAK DI KALIMANATAN BARAT, Hal:11
[2] Andreas Muhrotein, REKONSTRUKSI IDENTITAS DAYAK, Hal:1
[3] Lih. Andreas Muhrotein, REKONSTRUKSI IDENTITAS DAYAK, Hal:49

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nabi Mikha

Nabi Mikha A.     Mikha Nabi mikha lahir di kampung Moresyet, 30 km di sebelah Barat Daya Yerusalem (bdk. Mik.1:1), yang di sebut juga...