Rabu, 25 Juli 2018

TARIAN BUKONGK DALAM UPACARA ADAT KEMATIAN MASYARAKAT DAYAK MAHAP DI DESA SEBABAS DAN PENGARUHNYA PADA KEHIDUPAN MENGGEREJA PADA MASA SEKARANG (Oleh Ardi Saputra )



Budaya atau kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi kegenerasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.Budaya mempunyai banyak sekali keunikan.Dalam budayalah manusia dibentuk secara turun temurun menciptakan hasil karyanya maupun menciptakan sejarahnya masing-masing.
Satu di antara unsur budaya yang hidup dan berkembang pada masyarakat adalah seni.Seni merupakan satu di antara sarana ungkapan emosi dari batin manusia melalui hasil karya cipta dan karsa berdasarkan ide dan gagasan pandangan estetika menurut senimannya.Diantara bentuk-bentuk seni tari yang ada, penelitian ini lebih memfokuskan pada fungsi tari. Menurut Soedarsono (1982:26) jenis tari menurut fungsinya terbagi menjadi tiga bagian yaitu tari upacara, tari hiburan dan tari  tontonan atau tari pertunjukan.
Fungsi pertunjukan seni tari yang berkembang di Kalimantan Barat sangat beragam.Hal ini disebabkan karena beragam pula etnis yang mendiami provinsi tersebut, diantaranya etnis Melayu dan Dayak yang merupakan etnis lokal.Seni tari yang berkembang dalam dua etnis tersebut memiliki ciri pola bentuk gerak yang berbeda-beda.Hal ini disesuaikan dengan keadaan geografisnya. Begitu juga dengan tarian yang terdapat pada etnis Dayak, satu diantaranya tari tradisi yang terdapat di Kalimantan Barat, khususnya tarian di daerah Kecamatan Nanga Mahap, Desa Sebabas yaitu pada masyarakat suku dayak mahap desa Sebabas yang masih memiliki tarian tradisi.
Pada masyarakat suku dayak Mahap desa Sebabas sampai saat ini masih berkembang tari tradisi, satu diantaranya terdapat tari Bukokng. Tari Bukokng merupakan suatu upacara tradisi, dan fungsi yang berbeda sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhi budayanya.Khususnya pada etnis Dayak, bentuk seni tari yang berkembang lebih mengarah kepada fungsi ritual.Hal ini dibuktikan dengan adanya upacara ritual yang dilakukan oleh masyarakat Dayak.Satu diantara upacara ritual tersebut adalah upacara ritual kematian yang di dalamnya terdapat tari Bukokng.
Media juga memungkinkan kelompok-kelompok etnis untuk berkembang dan merayakan tradisi budaya mereka, membagikannya kepada orang lain, dan meneruskannya kepada generasi baru.Secara khusus mereka memperkenalkan anak-anak dan kaum muda kepada warisan budaya mereka.Para komunikator, seperti misalnya para seniman, melayani kebutuhan umum dengan menjaga dan memperkaya warisan budaya bangsa dan orang-orang (lih.Paus Yohanes Paulus II, Surat kepada para Seniman, 4).Dalam situasi ini tidak mengherankanlah, bahwa manusia, yang menyadari tanggung jawabnya atas kemajuan kebudayaan, memupuk harapan yang lebih luhur, tetapi dengan hati yang cemas pua menyaksikan adanya banyak pertentangan yang masih harus diatasi. Di tengah pertentangan itu, kebudayaan zaman sekarang harus ditumbuhkan sedemikian rupa sehingga mengembangkan pribadi manusia seutuhnya secara seimbang, dan membantunya dalam tugas-tugas yang pelaksanaannya merupakan panggilanan semua orang, terutama Umat briman Kristen , yang bersatu sebagai saudara-saudara dalam kesatuan keluarga manusia.
Tari Bukokng merupakan bentuk tari upacara yang dimaksudkan untuk mengantarkan arwah dari rumah duka menuju  liang lahat. Tari Bukung dalam upacara kematian ini merupakan sebuah tradisi pada suku dayak Mahap desa Sebabas kabupaten Sekadau.  Tari Bukung ditarikan oleh 3-7 orang, jumlah penari ditentukan umur mau pun jabatan seseorang semasa orang tersebut masih hidup di lingkungan masyarakat. Tarian Bukokng ditari kan oleh penari laki-laki yang berusia 25-40 tahun. Tarian Bukokng ini di pakai untuk mengiringi dalam pengantaran jenazah ke liang lahat.[1]Adapun sesajen atau peralatan, maupun pantangan yang harus dalam melakukan tarian Bukokng: 1. Pantang ponti 7 hari ( istirahat tidak boleh melakukan pekerjaan apapun selama 7 hari), 2. 1 ekor ayam dan satu buah tempayan tuak, 3.1 buah tempayan tuak, dan 4.1 ekor anjing dan 1 ekor ayam.
Tari Bukung ditarikan oleh tujuh orang penari laki-laki yang berusia 25-40 tahun. Penentuan usia tersebut berdasakan pertimbangan fisik sorang penari, karena dalam pertunjukannya penari diwajibkan untuk membawa peti jenazah sampai ke pemakaman. Pada saat membawa peti jenazah, penari Bukung berlari kecil sampai menuju ke pemakaman.Saat membawa peti jenazah tersebut, penari Bukung sudah dimasuki oleh roh alam sadar, hal ini terlihat ketika penari Bukung membawa peti jenazah tidak merasa kelelahan. Meskipun jarak dari rumah duka menuju liang lahat sangat jauh, penari Bukung harus tetap membawa peti jenazah tersebut, walaupun terkadang sebagian warga membantu membawa peti jenazah secara bergiliran.
[2]Selain itu, penari Bukung harus juga harus sudah berkeluarga, akan tetapi apabila penari tersebut sudah berkeluarga dan usianya belum mencapai syarat yang sudah ditentukan, maka penari Bukung tidak boleh ikut terlibat menari. Dalam tari Bukung memiliki syarat-syarat yang khusus, baik dari segi.Pelaksanaan sampai pada prosesi tari Bukung.Syarat-syarat tersebut harus lengkap.Setiap perlengkapan yang dibawa memiliki makna tersendiri. Apabila persyaratan tidak lengkap, maka proses jalannya upacara ritual tidak bisa dilaksanakan.  Di lihat dari bentuk pertunjukan, prosesi upacara, dan kostum yang digunakan para penari serta gerakannya yang lepas dari gerak-gerak tari Dayak pada umumnya.
Tari Bukung bisa dijadikan sebagai aset budaya, jika adanya keterlibatan langsung dari pemerintah setempat dalam proses pertunjukan tari Bukung yang ada di Dayak Mahap. Pemerintah harus bisa ikut ambil bagian dalam kegiatan tari Bukung, meskipun dalam proses jalannya upacara ritual tidak bisa di lihat oleh masyarakat luas. Tidak semua masyarakat yang meninggal itu berhak untuk dilakukannya upacara ritual kematian.Upacara tersebut hanya diperuntukan bagi masyarakat yang memiliki kedudukan tertinggi dan dianggap orang-orang penting pada masyarakat, seperti temenggung, kepala desa, kepala adat, kepala dusun, dan panglima.Jika satu diantara mereka yang meninggal, maka wajib hukumnya pihak warga untuk melakukan tari Bukung dalam upacara ritual kematian.Selain itu, tari Bukung merupakan satu di antara warisan nenek moyang dan budaya dari masyarakat yang harus dilestarikan di Kalimantan Barat ini, khususnya yang terdapat di desa Sebabas.
Pada saat menari, penonton yang menyaksikan tidak boleh memanggil nama penari tersebut, apabila mereka dipanggil dengan sebutan nama aslinya, maka roh dan jiwa mereka tidak akan kembali dan berada di alam lain. Saat penonton hendak memanggil nama, mereka cukup memanggil dengan sebutan Isan. Pakaian yang digunakan bukanlah dari pakaian adat atau pakaian yang biasa digunakan sehari-hari melainkan dari daun kelapa, daun pinang, pelepah pinang, dan daun sengkeribu. Gigi yang digunakan menyerupai bentuk aslinya adalah sukang (gigi palsu) dan pelepah pinang di mulut.
[3]Termasuk ciri pribadi manusia bahwa ia hanya dapat menuju kepenuhan kemanusiaannya yang sejati melalui kebudayaan, yakni dengan memilihara apa yang serba baik dan bernilai pada kodratnya. Maka di mana pun dibicarakan hidup manusia, kodrat dan kebudayaan erat sekali (GS.53).pada umumnya, dengan istilah “kebudayaan” dimaksudkan segala sarana dan upaya manusia untuk menyempurnakan dan mengembangkan pelbagai bakat-pembawaan jiwa-raganya.Ia berusaha menguasai alam semesta dengan pengetahuan maupun jerih payahnya.Oleh karena itu, mau tak mau kebudayaan manusia mencakup dimensi historis dan sosial, dan istilah “kebudayaan” sering kali mengandung arti sosiologis dan etnologis.Dalam arti itulah orang berbicara tentang kemacamragaman kebudayaan.Begitu pula terwujudlah lingkungan hidup tertentu dengan corak historisnya sendiri, yang menampung manusia dari berbagai zaman mana pun, dan yang menjadi sumber nilai-nilai untuk mengembangkan kebudayaan manusia serta masyarakat (GS 53).
[4]Budaya. Alat-alat komunikasi sosial memberikan kemungkinan kepada orang-orang untuk menikmati kesusasteraan, drama, musik dan karya seni, yang kalau tidak ada media tidak akan tersedia bagi mereka. Dengan demikian media memajukan perkembangan manusia dalam bidang pengetahuan dan kebijaksanaan serta keindahan. Kami bicara bukan hanya mengenai penyajian karya-karya klasik dan hasil dari dunia ilmiah, tapi juga semua jenis hiburan yang disenangi rakyat serta informasi yang berguna yang mempersatukan keluarga bersama-sama, membantu orang untuk memecahkan persoalan-persoalan sehari-hari, membangkitkan semangat orang yang sakit, orang yang terkurung dan orang-orang tua, serta meringankan orang dari kebosanan hidup ( Ethics in Communications. Art. 9).
Dalam ziarah mereka menuju Kota Surgawi, umat beriman Kristen harus mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas.[5]Dengan demikian, tidak berkuranglah, melainkan justru semakin pentinglah tugas mereka untuk bersama dengan semua orang yang berusaha membangun dunia secar lebih manusiawi.Sesungguhnyalah, misteri iman Kristen memberikan mereka dorongan dan bantuan yang amat berharga untuk secara lebih intensif menunaikan tugas itu, dan terutama untuk menemukan makna sepenuhnya jerih payah mereka itu sehingga kebudayaan mendapat tempatnya yang luhur dalam keseluruhan panggilan manusia.
Berdasarkan alasan-alasan tadi, Gereja mengingatkan kepada siapa saja bahwa kebudayaan harus diarahkan kepada kesempurnaan pribadi manusia seutuhnya, kesejahteraan peguyuban dan segenap masyarakat manusia.Oleh karena itu perlu pembinaan jiwa sedemikian rupa sehingga berkembanglah kemampuan untuk merasa kagum, menyelami sesuatu, merenungkannya, membentuk pendirian pribadi, yang memupuk semangat keagamaan, kesusilaan dan sosial.



[6]Dalam masyarakat Dayak, seni tari selalu dilaksanakan dalam konteks ritual dan seremonial.Tarian pada dasarnya merupakan selebrasi kehidupan. Sepanjang pengetahuan kami, hokum adat di kalangan suku Dayak melarang diadakannya  tarian-tarian selama masa tertentu khususnya setelah peristiwa kematian. Pada akhir ritus kematian, yang menandakan kembali ke kehidupan, di adakan tarian-tarian yang meriah. Tarian di kalangan suku Dayak tidak dikhususkan kepada kaum spesialis penari, tetapi pada dasarnya selalu merupakan tarian rakyat di mana setiap orang, laki-perempuan, tua-muda ikut berpartisipasi.Filsafah tarian selalu menunjuk pada perayaan kehidupan, kelepasan dari ketakutan terhadap maut, serta segala rasa duka pribadi.Tarian melukiskan klimaks-dramatis dari suatu transisi dari kematian kepada sebuah kehidupan.
[7]Kematian, urang mati hilang lolap lonjoh, napas udah ke angina darah  udah ke kampung adalah ungkapan tentang kematian seseorang. Setelah kematian seseorang anggota masyarakat, para anggota keluarga dan warga di kampung segera menyebarkan beritanya ke segenap warga kampung dan anggota di kampung lainnya.Berita kematian merupakan kabar yang sangat diperhatikan sehingga penyebarannya juga sangat cepat, baik secara langsung maupun dari mulut ke mulut.Di rumah kematian, anggota keluarga bersama warga kampung menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan kematian.Setelah itu dilakukan permandian jenazah, setelah melakukan pemandian jenazah. Jenazah akan diberikan pakaian dan diabringakan ke tikar. Tempat menyemayamkan jenazah di rumah adalah bagian pengunjungan, kaki kea rah depan  dan kepala kea rah belakang rumah. Di dekat jenazah, diletakkan sebuah telur, mangkok, piring, tempayan, dan sebuah batu dekat kaki.Pada kedua mata diletakkan cincin dan uang perak di lidah jenazah.Ada juga warga yang menyiapkan tempat bagi jenazah dan bagi para pelayat. Kunjungan kepada pihak yang mengalami kematian anggota kelauarga adalah salah satu aktivitas sosial  yang di utamakan dalam tradisi orang Dayak.
[8]Ditinjau dari sudut sosial dan budaya, kondisi-kondisi hidup manusia modern telah berubah secara mendalam sedemikian rupa sehingga orang dapat berbicara tentang zaman baru sejarah manusia.Maka, untuk mengembangkan dan menyebarluaskan kebudayaan terbukalah cara-cara baru.Cara-cara itu tersediakan berkat pengembangan luar biasa ilmu pengetahuan alam dan manusia, juga ilmu-ilmu sosial, perkembangan teknologi, begitu pula kemajuan dalam dalam pengembangan serta penataan penggunaan upaya-upaya komunikasi antarmanusia.
Karena itulah kebudayaan modern ditandai ciri-ciri khas: ilmu-ilmu yang disebut “eksakta” sangat mengembangkan penilaian kritis; penelitian-penelitian di bidang psikologis akhir-akhir ini memberikan penjelasan lebih mendalam tentang kegiatan manusiawi; ilmu-ilmu sejarah besar jasanya untuk menelaah kenyataan-kenyataan dari segi perubahan serta perkembangannya; kebiasaan-kebiasaan hidup serta adat istiadat menjadi semakin seragam; industrialisasi, urbanisasi, dan sebab-sebab lain, yang meningkatkan kebersamaan hidup, menciptakan pola-pola budaya baru (“mas culture”, “kebudayaan massa”), yang menimbulkan cara-cara baru menyangkut perasaan, tindakan dan penggunaan waktu terluang; serta meningkatkan pertukaran antara pelbagai bangsa dan golongan-golongan masyarakat semakin lebar membuka khazanah pelbagai bentuk kebudyaan bagi semua dan setiap orang, dan dengan demikian, lambat laun disiapkan pola kebuayaan yang lebih umum, lagi pula semakin memperat dan mengungkapkan kesatuan Umat manusia, bila makin dihormati ciri-ciri khas pelbagai kebuayaan.






DAFTAR PUSTAKA
Mikael dan Getruida. 2010, Adat Istiadat dan Hukum Adat Suku Dayak Mahap di Desa Sebabas.Pontianak : PPSDAK Pancur kasih.
Nana Susia Linda, Ismunandar, Winda Istiandini, penelitian: fungsi Tarian Bukung dalam Upacara.Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik FKIP UNTAN.
Dokumen Gereja. Ethics in Communications. Art. 9.
Andreas Muhrotien. 2012. Rekonstruksi Identitas Dayak. Yogyakarta: TICI Publications
Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: OBOR



[1]Lih.Adat Istiadat dan Hukum Adat Suku Dayak Mahap di Desa Sebabas.Hlm. 48
[2]Lih.Nana Susia Linda, Ismunandar, Winda Istiandini, penelitian: fungsi Tarian Bukung dalam Upacara Kematian Pada Masyarakat Suku Linoh Desa Nobal Kabupaten Sintang
[3] Lih Dokumen Konsili Vatikan II. Hlm 594
[4]Lih Ethics in Communications. Art. 9 “Budaya. Alat-alat komunikasi sosial memberikan kemungkinan kepada orang-orang untuk menikmati kesusasteraan, drama, musik dan karya seni, yang kalau tidak ada media tidak akan tersedia bagi mereka”
[5] Ibid. Dokumen Konsili Vatikan II. Hlm 598
[6]Lih Rekonstruksi Identitas Dayak. Hlm 18
[7] Ibid. Rekonstruksi Identitas Dayak, hlm 82-83
[8] Ibid. Dokumen Konsili Vatikan II. Hlm 596


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nabi Mikha

Nabi Mikha A.     Mikha Nabi mikha lahir di kampung Moresyet, 30 km di sebelah Barat Daya Yerusalem (bdk. Mik.1:1), yang di sebut juga...