Siapa yang tidak mengenal suku Dayak? Suku ini
adalah suku asli pulau Kalimantan atau sebutan lain yaitu pulau Borneo yang
memiliki budaya- budaya[1]asli
yang masih terjaga sampai saat ini. Misalnya tradisi Ritual Tiwah yang menjadi
tradisi yang sudah diwariskan turun temurun oleh leluhur orang Dayak yang masih
ada sampai saat ini. Ritual ini diyakini dapat menjadikan arwah orang yang
sudah mati menjadi masuk surga.
Ritual Tiwah adalah sejenis upacara adat
keagamaan suku Dayak, terutama Dyak ngaju, ut danum dan yang lainnya yaitu di
daerah provinsi kaliamantan tengah. Dengan cara mengantarkan tulang jenazah
orang yang sudah mati kesuatu tempat yang dikhususkan untuk mereka yang sudah
meninggal dunia. Tempat itu dinamakan Sandung yang bentuknya menyerupai sebuah
rumah kecil. Ritual ini adalah ritual yang sangat sakral bagi masyarakat Dayak
karena menyangkut masalah leluhur mereka.
Ritual Tiwah diyakini oleh masyarakat Dayak
sebagai sarana meluruskan perjalanan arwah mereka yang sudah meninggal untuk
masuk surga. Bagi masyarakat Dayak, surga dikenal dengan nama Lewu Tatau yang
merupakan sebuah tempat yang penuh kedamaian bersama Yang Maha Kuasa. Namun
selain itu, Ritual Tiwah juga ditujukan untuk membuang sial bagi keluarga yang
ditinggalkan agar terhindar dari pengaruh buruk yang bisa saja datang kepada
mereka.
Selain
sebagai pengharapan agar terhindar dari pengaruh buruk, Ritual Tiwah juga
memiliki maksud lain. Yaitu sebagai sarana melepas ikatan status janda atau
duda bagi pasangan yang sudah berkeluarga sehingga pasangan yang ditinggalkan
dapat memilih dan memulai hidup[2] baru
dengan orang yang baru.
Namun walaupun memiliki makna yang begitu
mendalam dan sakral, Ritual Tiwah bukanlah ritual yang dapat dengan mudah
dilaksanakan. Karena dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan dan
juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam pelaksanaannya. Hal ini bisa
terjadi karena biasanya Ritual Tiwah tidak dilaksanakan hanya dalam satu hari.
Melainkan beberapa hari bahkan sampai waktu satu bulan lamanya. Dalam
pelaksanaan acara Ritual Tiwah, biasanya juga dilaksanakan ritual lain sebagai
pelengkapnya. Seperti misal diadakannya upacara Tantulak dan juga beberapa
acara lainnya seperti acara penombakan hewan- hewan kurban seperti kerbau, sapi
dan babi.
Ritual Tiwah biasa dilaksanakan oleh aliran
kepercayaan Kaharingan yang ada di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Ritual
tiwah tidak hanya di lakukan oleh aliran kepercayaan kaharingan namun, agama
lain juga melaksanakan ritual ini seperti agama katolik,Kristen protestan dan
juga islam.Ritual yang sudah ada sejak dahulu kala dan diwariskan secara turun
temurun ini seakan sudah menjadi budaya icon bagi masyarakat Dayak terutama
yang ada di Kalimantan Tengah.
Ritual sakral yang biasa dilaksanakan sampai
berhari- hari ini adalah ritual yang sangat dihormati oleh masyarakat Dayak di
Kalimantan Tengah. Karena ritual ini menunjukan bahwa manusia yang ada sekarang
tidak akan pernah bisa lepas hubungan dari mereka yang sudah meninggal.
Terutama nenek moyang. Hal inilah yang menjadikan orang yang sudah meninggal
dunia masih mendapatkan rasa hormat dari orang yang ditinggalkannya.
Keyakinan atas Ritual Tiwah ini sangat melekat
pada setiap orang Dayak di Kalimantan Tengah. Salah satunya mereka sangat
meyakini bahwa orang yang sudah meninggal tidak akan bisa masuk surga jika
orang yang ditinggalkan belumlah melaksanakan Ritual Tiwah untuknya. Inilah
yang menjadikan orang yang masih hidup tidak bisa lepas dari mereka yang sudah
mati dalam hal tanggung jawab dan penghormatan. Rasa penghormatan terhadap
mereka yang sudah meninggal pun sangat nampak terlihat ketika pemindahan
tulang- tulang ke Sandung. Dimana tulang- tulang tersebut harus diangkat dan
tidak boleh menyentuh tanah.
Namun terlepas dari keyakinan .apapun yang
diyakini oleh masyarakatnya, keyakinan itulah yang membentuk dan mempertahankan
Indonesia sampai saat ini. Perbedaan yang ada dimasyarakatlah yang menjadikan
Indonesia kuat karena perbedaan yang ada bukanlah dijadikan penghalang untuk
bersatu melainkan sarana untuk bersatu. Termasuk diantaranya perbedaan
keyakinan dan aliran kepercayaan. Karena walaupun tidak mengikuti aliran
kepercayaan mainstream yang ada di Indonesia, agama Kaharingan di Kalimantan
Tengah ini adalah warisan nenek moyang yang haruslah dijaga karena merupakan
bagian dari Indonesia. Apapun keyakinannya, ini Nusantara kita yang harus kita
jaga.
1. Budaya
Tiwah dalam Pandangan Gereja Katolik
Upacara kematian menempati tempat utama dan
paling esensial dalam seluruh rangkaian upacara yang pernah dikenal dalam
kebudayaan manusia. Bagi masyarakat dayak terdapat dua makna yakni makna
religius dan makna sosial. Makna pertama, adalah sebagai penghoramatan terakhir
dan pensucian arwah sekaligus mengantarnya ke dunia abadi. Makna yang kedua,
makna sosial sebagai media berinteraksi antar masyarakat disekitar.Upacara
kematian ini dalam bahasa dayak ngaju disebut tiwah ini merupakan budaya dengan
ritual tingkat akhir yang dilakukan dalam adat kematian. Tiwah ini juga merupakan upacara adat mengangkat
tulang anggota-anggota keluarga yang sudah lama meninggal dunia dan pada zaman
dulu upacara ini paling cepat dilakukan setelah anggota keluarga itu meninggal
lima tahun sebelumnya. Upacara ini sangat berpengaruh bagi masyarakat yang
melaksanakannya, baik bagi keluarga yang sudah meninggal maupun keluarga yang
masih hidup. Bagi keluarga yang sudah meninggal dipercaya bahwa keluarga
tersebut keadaannya akan baik di alam baka.
Sedangkan untuk keluarga yang masih hidup,
dengan melakukan adat ini akan menunjukkan statusnya dan sebagai bentuk
kepedulian dan kecintaannya terhadap anggota keluarga yang sudah meninggal.
Upacara ini dilaksanakan pada waktu melaksanakan pembersihan kematian anggota
keluarga dan perlu kesiapan dari segi keuangan. Karena untuk melaksanakan
upacara ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pada pelaksanaan upacara tiwah ini dilakukan beberapa tahap, pertama yang
dilakukan adalah membuat patung (temaduk). Patung (temaduk) tersebut dibuat
dengan ukiran kayu, patung itu digunakan untuk menyembelih hewan
sembelihan berupa hewan ternak seperti sapi atau kerbau, dan digunakan juga
untuk orang-orang menari dan mengelilingi patung untuk memeriahkan ritual tiwah
tersebut. Setelah selesai ada yang namanya pembuatan sanduk atau sandung yang
digunakan untuk menyimpan tulang yang sudah diambil dari kubur. Sanduk atau
sandung berupa pondok kecil yang didirikan dengan tiang yang agak tinggi, dan
ada juga sanduk atau sandung yang tulangnya disimpan dalam tanah, di dalam
tanah ini diberi semen untuk melapisi tulang tersebut dan berukuran sekitar
2-3meter. Namun, ritual tiwah ini dilakukan atas dasar kesepakatan dari pihak
keluarga.
Pada zaman dahulu ritual tiwah ini dilakukan apabila pihak keluarga sudah
mendapat kepala dari manusia lain (mengayau), apabila belum mendapat kepala
manusia, maka ritual tiwah ini belum, dapat dilakukan. Karena atas kepentingan
bersama serta berdasarkan hasil kesepakatan, dalam hal pencarian kepala
(mengayau) itu diganti dengan menyembelih sapi atau kerbau. Ritual Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan
perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga – dalam Bahasa Sangiang)
sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, Tiwah juga dimaksudkan oleh masyarakat sebagai
prosesi suku Dayak untuk melepas Rutas (kesialan) bagi keluarga Almarhum yang
ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa. Selanjutnya, Tiwah juga
bertujuan untuk melepas ikatan status janda atau duda bagi pasangan
berkeluarga. Pasca Tiwah, secara adat
mereka diperkenankan untuk menentukan pasangan hidup selanjutnya ataupun tetap
memilih untuk tidak menikah
lagi.
Kesamaan pandangan dari kepercayaan di dalam
adat tiwah ini yakni, suatu keberadaan manusia yang
menempuh jalan untuk menuju kepada kemuliaan Allah (Ugang, 2010:146). Di dalam
Injil, Tuhan Yesus mengartikan kematian sebagai keadaan tertidur (Yoh. 11:11).
Yesus mau memberikan petunjuk bahwa kematian lahiriah dari suatu keberadaan
manusia karena ada saatnya orang yang tidur akan bangun. Kenyataan ini
dibuktikan oleh Yesus sendiri yang membangkitkan Lazarus yang sudah empat hari
diliang kubur.
Wujud manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh
sehingga bilamana manusia mati, maka baik tubuh sebagai wujud material maupun
jiwa dan roh sebagai wujud non material, semuanya mati (Ugang, 2010:148).
Namun, barang siapa hidup di dalam Kristus walaupun raganya sudah mati, namun
ia tetap hidup. Kepercayaan inilah yang memberikan harapan pada orang kristiani
karena Yesus sendiri sudah berkata: “Dan setiap orang yang hidup dan percaya
pada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal
ini (Yoh. 11:26). Kristus adalah kenyataan kebangkitan yang hanya
mungkin dapat terjadi oleh dan di dalam diri Yesus Kristus. Kristus adalah
kenyataan kebangkitan dan hidup bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya dan
kebangkitan-Nya itu hanya terjadi karena kuasa Allah. Yesus juga pernah
berkata, “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang
kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Dengan pandangan dan
kepercayaan yang dipercaya oleh umat kristiani mengenai kehidupan dan kematian
yang percaya pada Yesus. Maka, keselamatan roh dan jiwa seseorang tidak lagi
bergantung pada upacara-upacara, karena roh mereka yag sudah mati telah lengkap
dan sudah disediakan tempat oleh Yesus. Karena Yesus pernah berkata “Di rumah
Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya
kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh.
14:2). Kematian dalam pandangan kristen memiliki arti positif. “Bagiku
hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp 1:21). Kematian kristiani
berarti Allah memanggil manusia kepada diri-Nya, bersatu dengan kodratNya yang
Ilahi. Penghrapan kita kepada Allah akan janji-janjiNya melalui wahyuNya telah
digenapi yaitu kebahagian kekal bagi semua orang beriman. Orang yang hidup
dalam rahmat, dalam persahabatan dengan Allah, dan disucikan sepenuhnya, akan
hidup selama-lamanya dalam kebahagiaan bersama Allah dan dalam persekutuan
dengan para malaikat dan para kudus dalam kerajaan surga, tanah air yang kita
nanti-nantikan.
Mereka dapat memandang Dia dalam keadaan yang
memandang-Nya dari muka ke muka (bdk. 1 Kor 13:12). Kebangkitan Tuhan Yesus
dari wafat di salib makin meneguhkan iman kristiani bahwa kehidupan setelah
kematian sungguh nyata bagi orang beriman kepada-Nya. Kematian bukan akhir
segala kehidupan tetapi kematian adalah awal dari kehidupan baru yang lebih
mulia. Santo Paulus menegaskan bahwa di dalam Yesus Kristus bangkita mulia,
kematian telah dihancurkan dan kehidupan kekal dikaruniakan (2Kor. 5:1-4). Jika
seseorang meninggal dunia dalam keadaan rahmat dan pengenalan akan Tuhan,
tetapi masih mempunyai dosa-dosa ringan dan jiwa mereka belum sempurna, menurut
ajaran Gereja, jiwanya terlebih dahulu harus dimurnikan dalam api penyucian.
2. Pandangan Budaya
mengenai adat Tiwah
Masyarakat dayak secara umum meyakini bahwa
roh orang yang sudah meninggal jika belum diselenggarakan upacara kematian (tiwah) maka roh dapat mengganggu manusia yang masih
hidup. Dalam arti bahwa kematian hanyalah perubahan dalam wujud fisik, tetapi
roh akan terus hidup. Untuk jalur upacara kematian merupakan bentuk budaya
dalam sistem tindakan, untuk menghantar roh orang meninggal tersebut ke dunia
akhirat maka masyarakat dayak perlu melakukan serangkaian upacara kematian.
upacara kematian ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan kosmos yang
diharapkan dapat memberikan keselamatan baik kepada roh si mati maupun terhadap
manusia yang ditinggalkan.Konsep kematian berbagai etnik masyarakat dayak
tersebut bersumber dari kepercayaan kaharingan yang menekankan bahwa terdapat
kehidupan setelah kematian. Kepercayaan masyarakat prasejarah khususnya
masyarakat megalitik yang didasari pandangan adanya hubungan antara yang hidup
dan mati, khususnya kepercayaan akan adanya pengaruh kuat dari roh manusia yang
telah mati terhadap kesejahteraan orang yang masih hidup.
Upacara kematian yang dilakukan bukan hanya
sekedar aktivitas tanpa makna. Upacara ini dianggap sebagai pendisiplinan yang
memberikan kekuatana dasar bagi suatu kelompok masyarakat untuk saling terikat
satu dengan yang lain. Upacara ini juga memiliki fungsi sosial yaitu mengatur,
mempertahankan dan memindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Faktor budaya memperlihatkan, masyarakat dayak pada umumnya merasakan adanya
suatu kewajiban moral dan sosial untuk melaksanakan upacara kematian terakhir.
Kewajiban moral didasari oleh anggapan bahwa orang yang meninggal jika belum
dilaksanakan upacara ini maka arwah orang yanng sudah meninggal tidak dapat
masuk dunia arwah yang serba abadi. Sedangkan untuk kewajiban sosial ialah
perasaan yang tidak enak terhadap lingkungan masyarakat sekitarnya jika belum melakukan
upacara. Dan untuk fungsi sosial serta peranan sosial dari upacara kematian
ialah menjaga keteraturan dalam masyarakat. Sebab upacara kematian ini
dilakukan berkenaan dengan pedoman-pedoman dalam kebudayaan, sedangkan untuk
fungsi kebudayaan ialah sebagai pegangan bagi mewujudkan keteraturan dalam
kehidupan masyarakat.
Jadi, untuk menjaga hal-hal yang tidak
diinginkan masyarakat akan berlaku dan bertindak sesuai dengan apa yang telah
digariskan dalam kebudayaannya. Masyarakat dayak secara umum meyakini bahwa roh
orang yang sudah meninggal jika belum diselenggarakan upacara kematian (tiwah) maka roh dapat mengganggu manusia yang masih
hidup. Upacara kematian menempati tempat utama dan paling esensial dalam
seluruh rangkaian upacara yang pernah dikenal dalam kebudayaan manusia. Bagi
masyarakat dayak terdapat dua makna yakni makna religius dan makna sosial.
Makna pertama, adalah sebagai penghormatan terakhir dan pensucian arwah
sekaligus mengantarnya ke dunia abadi.
Makna yang kedua, makna sosial sebagai media
berinteraksi antar masyarakat disekitar. Kematian dalam pandangan kristen
memiliki arti positif. “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan
(Flp 1:21). Kematian kristiani berarti Allah memanggil manusia kepada diri-Nya,
bersatu dengan kodratNya yang Ilahi. Penghrapan kita kepada Allah akan
janji-janjiNya melalui wahyuNya telah digenapi yaitu kebahagian kekal bagi
semua orang beriman. Orang yang hidup dalam rahmat, dalam persahabatan dengan
Allah, dan disucikan sepenuhnya, akan hidup selama-lamanya dalam kebahagiaan
bersama Allah dan dalam persekutuan dengan para malaikat dan para kudus dalam
kerajaan surga, tanah air yang kita nanti-nantikan. Mereka dapat memandang Dia
dalam keadaan yang memandang-Nya dari muka ke muka (bdk. 1 Kor 13:12).
Referensi:
SEMBOYAN
KALTENG
“MAMUT
MENTENG UREH UTUS KU ISEN MULANG JITE PENYANGKU”
[1] Kebudayaan
adalah suatu ruang vital, manusia bertatap dengan injil. Kebudayaan di hasilkan
oleh manusia tetapi manusia juga di bentuk oleh kebudayaan. Manusia dan
msyarakat berubah tetapi kebudayaan juga berubah bersama mereka. Seran
Yanuarius, 2007. Cara baru menjadi gereja dalam rangka evangelisasi baru.
Yayasan Pustaka Nusatama. Yogjakarata: hal: 139.
[2] Sebagai
ciri-ciri khas untuk makhluk hidup pada umumnya di sebut “generation and
refroduction”(melahirkan hidup baru), juga “nutrition” (makan dan
minum). Snijders, Adelbert, 2004. Atropologi filsafat manusia paradox dan
seruan. Kanisius, Yogjakarta. Hal:103.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar