Dalam
tradisi sub-suku dayak bisomu terdapat sebuah tradisi unik yaitu berkat lumbung
padi. Berkat lumbung padi adalah tradisi yang dilakukan setiap setahun sekali
untuk ucapan syukur atas hasil panen padi. Berkat lumbung ini berbeda dengan
gawai yang dilakukan oleh masyarakat dayak pada umumnya. Berkat: Kamus besar bahasa Indonesia:
Karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia. Doa restu dan pengaruh
baik (yang mendatangkan selamat dan bahagia) dari orang yang dihormati atau
dianggap suci (keramat), seperti orang tua, guru, pemuka agama. Sedangkan
lumbung yaitu sebuah tempat atau wadah yang disediakan untuk menyimpan padi
khususnya untuk tradisi suku dayak. Berkat lumbung padi juga dikaitkan dengan
doa permohonan yang ditujukan kepada Tuhan atas panen padi yang telah diperoleh
selama setahun. Dalam tradisi tersebut dibutuhkan segala macam peralatan atau
pun syarat-syarat yang harus disediakan untuk melaksanakan ritual tersebut.
Menurut
bapak Heronimus Nonoi (Kepala Dusun Ensingo), pemberkatan lumbung padi yang
dilakukan selama ini ialah sebagai rasa ucapan syukur yang telah dilakukan oleh
masyarakat setempat sejak lama dan dilakukan dari generasi kegenerasi.
Pemberkatan lumbung padi ini jangan sampai hilang dari kehidupan sub-suku dayak
bisomu, karena berkat lumbung padi adalah warisan dari nenek moyang yang sejak
lama sudah ada didalam tradisi sub-suku dayak bisomu.
Materi
yang disediakan dalam berkat lumbung padi (ensangi jurua) yaitu seperti: ayam
panggang, lemang, nasi yang dibungkus dengan daun, tuak, sungki (nasi yang
dibungkus daun yang dibuat kecil, bisa saja dibuat dalam enam sampai tujuh
bungkus), dan songkap (bambu yang dibelah ujungnya, dengan dibuat tujuh belahan
bagian atas). Pada saat semua peralatan ataupun materi sudah disediakan, dalam
tradisi ini dibutuhkan seorang pawang (boreh) untuk melakukan ritual
pemberkatan. Setelah selesai melakukan ritual tersebut pawang beserta tuan
rumah dan orang-orang yang ikut ditempat ritual lumbung padi tersebut
diharuskan ikut makan, makanan yang sudah disediakan ditempat lumbung padi
tersebut.
Seiring
dengan perkembangan jaman tradisi tersebut bukan makin dilupakan, akan tetapi
semakin dilestarikan dengan berbagai macam cara misalkan disesuaikan dengan
situasi masyarakat setempat serta agam yang dianut. Dalam gereja berkat
merupakan tindakan dasariah doa Kristen: pertemuan antara Allah dan manusia. Di
dalam berkat itu, anugerah Allah dan penerimaannya oleh manusia atas
anugerah-anugerah Allah. Karena Allah memberkati, maka hati manusia dapat
memuja Dia yang adalah sumber segala berkat (KGK: art 1078). Selain, doa
permohonan juga tidak kalah penting dalam pemberkatan lumbung tersebut. Karena
yang paling diutamakan yaitu doa kepada Tuhan untuk memperoleh panen untuk
tahun yang akan datang. Maka dalam perjanjian baru kita temukan pelbagai kata
untuk permohonan: memohon, meminta, meminta dengan sangat, menyeru, menjerit,
berteriak, malahan juga brgumul dalam doa. Tetapi ungkapan yang paling biasa
paling cocok adalah memohon. Dalam doa permohonan terungkap kesadaran akan
hubunngan kita dengan Allah. Kita adalah makhluk dank arena itu, bukan asal-usul
kita sendiri, bukan tuan atas keberadaan kita dan juga bukan tujuan kita yang
terakhir ( KGK art 2629).
Ucapan
syukur merupakan ciri khas doa didalam gereja yang dalam menyatakan bentuk rasa
ang paling dalam kepada Tuhan sang pencipta. Dalam tradisi pemberkatan lumbung
ini seringkali disalah artikan sebagai pemujaan berhala oleh orang-orang
fanatik. Padahal yang kita ketahui dalam tradisi sub-suku dayak bisomu ialah
pemberkatan lumbung yang telah dilaksanakan secara turun temurun merupakan doa
dan ucapan syukur atas hasil panen. Hal yang paling menonjol dari pemberkatan
lumbung ini ialah bagaimana si tuan rumah yang melaksanakan ritual ini
menyiapkan kurban ataupun persembahan untuk dipersembahkan kepada Tuhan
messkipun melalui perantara seorang pawang.
Akan
tetapi yang terjadi untuk masa sekarang sebagian masyarakat tidak lagi
menggunakan jasa pawang melainkan yang dipercaya untuk membawakan ritual
tersebut ialah orang-orang yang mengerti akan tata cara pemberkatan melalui
agama katolik, misalnya ketua umat. Masyarakat mulai mengenal untuk
melaksanakan ritual tersebut melalui ketua umat atau orang-orang yang paham
akan hal tersebut sejak berkembangnya gereja yang berdomisili didaerah
tersebut. Serta pemimpin umat yang ada didaerah tersebut pun mulai mengetahui
peran mereka dalam hidup menggereja. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa
sebagian dari masyarakat sub-suku dayak bisomu masih menggunakan tradisi lama.
Peran
gereja dalam hal melestarikan tradisi pada masyarakat tertentu cukup memberi
respon yang positif bagi masyarakat sub-suku dayak bisomu. Karena gereja tidak
sama sekali menghilangkan esensi dalam fungsi dari ritual tersebut, misalkan
saja pada peralatan serta materi yang digunakan masih tetap sama. Dalam hal ini
fungsi dari evangelisasi yang dilaksanakan oleh pihak gereja dalam hidup
masyarakat sangatlah bekerja dengan baik dan melalui hal tersebut masyarakat
dan gereja dapat saling menjalin hubungan yang bisa membangun dari segi
tradisi, adat-istiadat serta budaya setempat agar dapat terus dilestarikan.
Menurut
(Yanuarius Seran, Hal:140) kebudayaan adalah suatu ruang vital, manusia
bertatap muka dengan Injil. Kbudayaan dihasilkan olh manusia tetapi manusia
juga dibentuk oleh kebudayaan manusia dan masyarakat berubah tetapi kebudayaan
berubah bersama mereka. Inkulturasi merupakan suatu proses yang sedang terjadi,
jika umat berusaha mengerti dan menghayati Injil Kristus[1].
Artinya melalui Injil
gereja dapat mewartakan Kristus dalam suatu kebudayaan dalam masyarakat.
Melalui Injil gereja mampu untuk berinkulturasi dengan suatu kebudayaan ataupun
tradisi yang ada dalam masyarakat dengan tidak menghilangkan keaslian dari
tradisi tersebut. Inti dari inkulturasi adalah penghayatan Injil. Karena
inkulturasi menyangkut soal umat setempat berupaya menghayati injil, maka usaha
inkluturasi berkaitan erat dengan evangelisasi.
Paus Paulus VI
memperlihatkan bahwa evangelisasi memasuki semua lapis kebudayaan manusia
sampai keakar-akarnya. Injil mesti mengubah kemanusiaan dari dalam dan
memperbaharuinya dalam makna, nilai-nilai, minat, aspirasi dan model kehidupan.
Evangelisasi mencakup warta eksplisit dan perwujudannya dalam kondisi masyarakat
setmpat, entah menyangkut hak dan kewajiban setiap orang, hidup keluarga maupun
hidup masyarakat (bdk. EN29).
Tradisi pemberkatan
lumbung padi (ensangi Jurua) merupakan tradisi yang memang sudah lama dilakukan
oleh masyarakat, maka dalam hal ini gereja harus mampu menembusi setiap tata
cara yang telah dilaksanakakan dalam pemberkatan. Gereja harus ikut berperan
didalamnya, misalnya jika kita lihat yang terjadi sekarang dalam pemberkatan
selain materi-materi yang telah disebutkan diatas sekarang ditambah dengan
adanya salib yang digunakan dalam pemberkatan secara katolik. Menjadi nyata
jika gereja ikut dalam kegiatan-kegiatan adat istiadat agar dalam pelayanannya
terhadap umat semakin dirasakan oleh umat melalui inkulturasi yang satu
diantaranya ialah dalam pemberkatan lumbung padi ini.
Inkulturasi gereja harus
menembusi stiap budaya, mengidentifikasikan diri dengan budaya-budaya itu,
mengerti nilai dan keyakinan serta peka terhadap perjuangan dan aspirasi
mereka. Paus Yohanes Paulus II mengamati: banyak nilai luhur dan refleksi
kebijaksanaan dari agama-agama besar di Asia, yang dapat menjadi batu loncatan
untuk pewartaan Injil. Namun pewartaan Injil membutuhkan proses inkulturasi,
untuk mengerti, menghayati dan merealisasikan nilai-nilai budaya, sebab cara
hidup suatu masyarakat tidak bisa dinilai dari luar semata. Satu-satunya cara
gereja mengevangelisasi budaya-budaya adalah, memasuki jiwa atau hati
masyarakat, pandangan dan kebiasaan, penderitaan adan kesulitan yang dihadapi,
cita-cita dan harapan mereka (Yanuarius Seran, hal: 142-143).
Daftar Pustaka
Yanuarius
Seran. Pengembangan Komunitas Basis Cara Baru Menjadi Gereja dalam
rangka Evangelisasi Baru. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama, 2007.
Katekismus
Gereja Katolik, art:1078, 2619.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar