Rabu, 25 Juli 2018

UPACARA NIPAN PEGELA’ GAWAI DAYAK SUKU DAYAK KANTU’ ( Oleh Hermina Merry )


Dayak kantu’ merupakan sub suku yang berada di kabupaten kapuas hulu provinsi kalimantan Barat. Suku Dayak kantu’ memiliki kerabat yang dekat dalam satu rumpun yang sama,yaitu dengan suku iban. Orang dayak Kantu’ masih mengamalkan sebuah tradisi yang di lakukan pada saat gawai dayak kantu’ yang disebut makai taun. Di salah satu suku dayak  kantu yang berada di  kecamatan Bika kabupaten kapuas Hulu. Ketika gawai dayak atau makai taun, para masyarakat tersebut melakukan sebuah upacara adat yang di sebut nipan pegela’.
Dalam adat makai taun (gawai dayak) tersebut ada sebuah upacara yang dilakukan di setiap rumah,yaitu “nipan pegela’ “. Nipan pegela’ biasanya dilakukan pada saat pagi hari, dari terbitnya matahari sekitar jam 6- 11 pagi, menurut anggapan tersebut disesuaikan dengan naik (terbit) matahari maka seperti itu juga rejeki naik. Dan tidak boleh pada sore hari karena matahari sudah turun. Nipan pegela’ merupakan sebuah bentuk syukuran  kepada Allah Tala atau petara yang telah memberi kehidupan dan  memberikan rejeki kepada manusia. Dalam acara nipan pegela’ biasanya disediakan alat-alat untuk berladang seperti parang,kapak penebang, padi, segala barang-barang yang ingin di  sengkelant dan di kitau dengan ayam dan darah ayam. Di kitau merupakan seseorang yang melakukan  sebuah proses berkat alat dengan menggunakan “sampi atau besampi”dengan ayam yang biasanya di mulai dengan hitungan 1-7 dengan meminta kesehatan, berkat perlindungan dari Allah Tala.Dan dengan tuak yang terbuat dari pulut sebagai minuman yang disajikan untuk hari Gawai. Setelah itu ayam yang digunakan untuk bekitau di bunuh sehingga darah ayam tersebut di oleskan kepada barang-barang yang akan diberkat serta di oleskan juga pada dahi seluruh keluarga yang mengikuti upacara tersebut. Pokok dalam upacara besengkelant atau nipan pegela’ ialah ayam, tidak harus babi yang dibunuh untuk nipan atau besengkelant karena ayam lebih besar kuasanya dari babi. Hal tersebut beranggapan agar mendapat kekuatan dan keselamatan.
 Dalam proses nipan pegela’ biasanya di sediakan rancak 4 yaitu untuk dirumah, ketanah , bagian untuk burung (ketupung,beragai, papau) yang di anggap membantu dalam proses beladang dalam keselamatan satu tahun berladang, tempat penyimpanan yaitu pasah atau gentung padi supaya padi dapat bertahan dalam mengahasilkan padi yang berlimpah, dan keair dengan tujuan untuk puaka atau penjaga air. Rancak yang merupakan bambu yang dianyam untuk menyimpan segala pegela’ yang terbuat dari beras pulut yang di pansuh, serta bahan-bahan pegela’ lainnya. Nipan pegela’ di lakukan oleh orang-orang tertua atau kepala adat yang berada di kampung tersebut. Nipan pegela’ dilakukan dengan menyusun piring batu, jumlah  piring batu ini disesuaikan dengan tingkatan berapa bentuk barang yang akan di tipan pegela’ atau yang akan disajikan sesuai dengan tingkatan yang di sediakan.
Biasanya tingkatan 4,7,8 yaitu piring pertama (kepala piring) untuk bedara’ yang bertujuan untuk memanggil roh nenek moyang untuk datang mengikuti acara tersebut, petara atau Allah Tala, burung yang dianggap keramat yang membantu dalam proses kelangsungan kehidupan dan berladang, piring kedua: untuk tuan rumah yang mengadakan acara dan pegela’ tersebut harus dimakan sekeluarga dengan anggapan rejeki telah berlimpah di piring tersebut, piring ketiga: pegela’ nya di taburkan sekeliling rumah untuk menghidari segala marabahaya, sisa dari piring pegela’ yang ada dapat dimakan oleh orang-orang yang menghadiri upacara nipan pegela’ teresebut mulai dari anak-anak sampai orang tua setelah lebih dari 15 menit . Piring batu disesuikan dengan pengaruh atau alat yang di anggap keramat seperti barang-barang antik, piring tua, tempayan. Yang merupakan sebuah tolak ukur dalam jumlah piring untuk nipan pegela’.  Misalkan  nipan pegela’ bunuh babi atau tidak bunuh babi sama tingkatannya tetapi tolak ukurnya dilihat dari barang yang dianggap keramat.
Jenis tipan atau susunan  pegela’ yaitu nasi putih yang disebut nasi amur di setiap jumlah piring dan rancak, setelah itu pulut putih, pulut merah, pulut hitam, lingkau (jagung) lesit, jawa’, tepung kelapih yang terbuat dari tepung beras yang ditumbuk dan di balut dengan daun pisang, letup yaitu padi yang di gonseng (direndai) dalam kuali. Ini yang merupakan bagian hasil berladang, kemudian yang merupakan hasil dari bekebun atau yang ditanam disekeliling rumah (temawai) ; kelapa, pisang yang sudah masak, biji mentimun,perenggi, labu yang sudah gonseng dan ditumpuk sehingga berbentuk tepung, Dan ayam yang sudah direbus, telur ayam, gula yang merupakan penutup untuk proses tipan pegela’ karena gula terbuat dari tebu.
Tujuan dari gawai dayak merupakan bentuk syukuran terhadap petara untuk ucapan syukur atas keselamatan dan hasil rejeki yang diterima dalam satu tahun. Hal tersebut sangatlah menjadi sebuah adat yang patut dilestarikan secara turun temurun oleh nenek moyang. “Oleh karena itu, mau tak mau kebudayaan manusia mencangkup dimensi historis dan sosial, dan istilah  “kebudayaan” sering kali mengandung arti sosiologis dan etnologis. Dalam arti itulah orang berbicara tentang kemacamragaman kebudayaan kebudayaan. Sebab dari pelbagai cara menggunakan bermacam-macam hal, menjalankan pekerjaan dan menggungkapkan diri, menghayati agama dan membina tata susila, menetapkan undang-undang dan membentuk lembaga-lembaga hukum, memajukan ilmu pengetahuan serta kesenian, dan mengelola keindahan, muncullah kondisi hidup yang umum serta pelbagai cara menata nilai-nilai kehidupan”.(GS/Art.53).
Dari dokumen tesebut menjelaskan Gereja melihat bahwa kebudayan dan adat-istiadat sangat berhubungan dengan pandangan Gereja.  Kebudayaan sangat lah harus di lestarikan secara terus menerus. Banyak sekali dengan perkembangan zaman adat istiadat juga luntur atau kurang dilestarikan. Seharusnya adat istiadat yang sudah berakar haruslah tetap dijaga dan dilestarikan. Seperti di Gereja katolik juga ada bentuk syukuran panen, begitu juga dengan adat yang dilakukan oleh suku dayak kantu’ yang telah di paparkan sebelumnya. Dalam gereja katolik juga menerima sebuah inkulturasi.
Maka, sudah selayaknyalah kebudayaan menuntut supaya dihormati, dan dalam arti tertentu tidak dapat diganggu-gugat, tentu saja tanpa merongrong hak-hak pribadi maupun persekutuan,baik yang khas maupun umum,dalam lingkup kesejahteraan masyarakat.(GS/Art.59). Dalam arti bahwa suatu kebudayaan tidak boleh untuk di ubah-ubah atau dilupakan sesuai dengan perkembangan zaman, hal tersebut tetap harus dihormati dan dijunjung tinggi. Nipan pegela’ menjadi sebuah ungkapan syukur atas hasil panen yang telah diberikan oleh Allah Talla kepada anak manusia.
 Dengan nipan pegela’ berarti ungkapan terima kasih sama seperti bentuk syukur berkat benih yang merupakan hasil panen tahunan. “Sebab bila manusia dengan karya tangannya maupun melalui teknologi mengelola alam supaya mengahasilkan buah dan menjadi kediaman yang layak bagi segenap keluarga manusia, dan bila ia sadar memainkan perannya dalam kehidupan kelompok-kelompok sosial,ia melaksanakan rencana Allah yang dimaklumkan pada awal mula,yakni menklukkan dunia serta menyempurnakan alam ciptaan dan mengembangkan dirinya. Sekaligus ia mematuhi perintah kristus yang mulia untuk mengabadikan diri kepada sesama.” (GS/Art.53). dalam acara gawai dayak (makai taun) orang berkumpul untuk ikut serta mengahadiri acara nipan pegela’ yang setiap rumah pasti melakukan upacara tersebut tergantung dengan mau atau tidaknya sebuah keluarga yang melakukan uapacara tersebut. Dalam Gereja juga melakukan hal yang sedemikian rupa untuk membantu memberi pemahaman kepada umat untuk memahami peran sebagai orang hidup kristiani yang mengahargai kebudayaan melalui perintah kasih kristus yang mulia untuk mengabadikan diri kepada sesama.rohseperti liturgi harus sesuai dengan jiwa dan kebudayaan bangsa yang berbeda-beda. supaya mistri kristus diwartakan kepada semua bangsa, untuk membimbing mereka kepada ketaatan, dirayakan dan dihidupkan dalam semua kebudayaan. Sementara itu kebudayaan tidak dihapuskan oleh misteri, tetapi dibebaskan dan disempurnakan  oleh kebudayaan manusiawi yang mereka miliki yang diterima dan diubah kristus, anak-anak Allah dapat masuk kepada Bapa dan memulikan dia dalam satu
RELEVANSI
Relevansi bagi penulis supaya dapat lebih mempersiapkan diri untuk berevangelisasi untuk kedapannya, sehingga menjadi bentuk usaha yang dapat menambah pengalaman dan memahami tentang kebudayaan yang telah di lakukan secara turun temurun oleh nenek moyang dan menjaga kelestarian budaya dan kearifan lokal yang telah ada dan juga relasi agama terhadap budaya dan adat istiadat yang harus dikembangkan dengan bernilai positif dikalangan masyarakat.
Sehingga dapat memberikan pemahaman yang terbaik  kepada orang-orang, melalui berevangelisasi yang didapat dalam memahami budaya dan adat diri sendri secara menjaga keutuhan sehingga selaras dengan yang diharapkan.  Dan dapat menjadi terang kepada sesama. “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang”(yoh 1:9).
Tujuan dari penulis supaya kebudayaan masyarakat dapat selaras dengan pandangan Gereja yang akhirnya membawa nilai dampak positif kepada sesama dengan tujuan untuh selalu menjaga kebudayaan yang telah ada dan dapat terus menghormati secara terus menerus dan sebagai bentuk menghormati kebudayaan nenek moyang.  rohseperti liturgi harus sesuai dengan jiwa dan kebudayaan bangsa yang berbeda-beda .

Daftar Pustaka
Dokumen Konsili vatikan 11.2013. Jakarta: Obor
Katesmus Gereja katolik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nabi Mikha

Nabi Mikha A.     Mikha Nabi mikha lahir di kampung Moresyet, 30 km di sebelah Barat Daya Yerusalem (bdk. Mik.1:1), yang di sebut juga...