Rabu, 25 Juli 2018

Nyemaru (Makan Padi Baru) Merupakan Ungkapan Rasa Syukur Kepada Tuhan Menurut Kebudayaan Dayak Sawe Di Kabupaten Sekadau. Oleh : Kristina Lilis


Tradisi adalah suatu bentuk aktivitas atau prilaku yang dibiasakan, dalam pola tertentu, yang pada umumnya bersifat serimonial dan dilakukan baik secara perorangan (individu) ataupun secara kolektif (bersama-sama) dengan cara sendiri. Tradisi diadakan dan dibuat oleh kelompok masyarakat di lingkungan lokal, penguasa negara dan komunitas masyarakat yang berlatar agama.[1]
Dari pengertian di atas tradisi adalah kebiasaan yang di lakukan baik individu maupun kelompok. Di daerah kalimantan Barat tepatnya di daerah Desa Rawak Hulu, Kabupaten Sekadau, salah satu tradisi atau kebudayaan yang dikenal adalah Nyemaru (makan padi baru). Nyemaru merupakan salah satu dari beberapa tradisi lain orang dayak sawe yang berada di Kabupaten Sekadau, nyemaru berlangsung secara turun-temurun hingga sampai saat ini. Nyemaru dilakukan pada saat selesai panen padi. Nyemaru adalah ungkapan rasa syukur masyarakat dayak sawe kepada Tuhan atas panen padi yang telah selesai. Rasa syukur tersebut diungkapkan dengan makan bersama. (tutur pak Fransiskus Tibon 7 April 2018).
Makan dan minuman yang tersedia seperti: Tepung, lemang, daging ayam dan daging babi, minumannya Tuak serta beras baru. Tepung adalah makanan yang terbuat dari dari beras ketan yang ditumbuk hingga halus, sesudah ketan sudah halus, tepung tersebut dicampur dengan gula, setelah itu digulung dengan tangan dan digoreng. Yang sudah masak itulah namanya tepung. Pada zaman dahulu alat yang diggunakan untuk menunbuk beras ketan adalah lesung yang terbuat dari kayu dengan bentuk persegi dan tengahnya dilubangi.                 
Tetapi dengan teknologi sekarang yang canggih, kebanyakan masyarakat dayak sawe yang ada di Kabupaten Sekadau sudah menggunakan mesin, sehingga prosesnya lebih cepat dari pada menumbuk beras menggunakan lesung. Lemang, lemang adalah makan ciri khas orang dayak sawe Kabupaten Sekadau, tidak hanya ada pada saat nyemaru tetapi kegiatan adat lainnya juga terdapat lemang. Lemang adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang dimasukan kedalam bambu, yang dicampurkan dengan air santan kelapa yang sudah beri garam secukupnya dan bisa juga dicampur dengan potongan daging ayam atau babi. setelah bahan-bahan sudah tercampur semua, selanjutnya di masukan ke dalam bambu yang sudah dibersihkan. Ukuran bambu tersebut sekitar setengah meter. Tidak semua bambu bisa digunakan, hanya bambu yang masih bagus, yg warna hijau muda dan tua. Cara memasaknya dengan di diangi dekat api.
 Daging yang digunakan yaitu daging babi dan daging ayam. Danging ayam atau babi tersebut  dimasak sesuai selera. Daging babi yg sudah masak tersebut disimpan di mangkuk dan ketika keluarga dan tamu datang ke rumah. Daging yang sudah masak dan disimpan ke mangkuk tersebut di berikan kepada keluarga atau tamu yang datang kerumah. Selain makanan yang dihidangkan kepada keluarga dan tamu, minuman juga disuguhkan kepada mereka. Minumnya seperti air tuak. Tuak adalah minuman yang terbuat dari ubi kayu, yang dibersihkan dan direbus. Setelah direbus, ubi tersebut ditiriskan dan dicampur dengan ragi. Setelah keduanya tercampur simpan di dalam tempayan atau wadah yang besar. Tunggu beberapa mingggu sampai ubi tersebut mengeluarkan air. Air tersebutlah yang digunakan untuk diminum. Beras, beras yang dimasak yaitu beras dari panen padi tahun lalu dan beras yang baru selesai di panen. Ketikah  hidangan telah siap semua, sebelum menyantap makan bersama-sama ada ritual kecil yang dilakukan. Seperti baca mantar, setelah itu ada doa bersama yang dipimpin oleh ketua umat atau pastor. Ketika sudah dilakukan semuanya selanjutnya adalah makan bersama-sama.
Pandangan Gereja
Pandangan Gereja mengenai Gawai ialah. Gereja Katolik selalu mendukung dapat di lihat dalam Dokumen Konsili Vatikan II dan Kitab Suci ( Kis 2:41-47)[2]. Dalam (Dei Verbum art 8)[3]. Bahwa, para Rasul, seraya meneruskan apa yang mereka terima sendiri, mengingat kaum beriman supaya mereka berpegang teguh pada ajaran-ajaran warisan, yang telah mereka terima entah secara lisan maupun tulisan.  Dari pandangan gereja tersebut terlihat jelas bahwa gereja Katolik tidak menutup dan menjauhkan diri dari dalam melihat tradisi, karena tradisi merupakan pengajaran lisan para rasul tentang Wahyu Allah. Melalui Dokumen Dei Verbum Gereja Katolik menyelaraskan antara pengajaran tradisi dan kitab suci. Allah telah menetapkan bahwa apa yang telah diwahyukan-Nya semuanya adalah untuk keselamatan semua umat-Nya. Untuk selama-lamanya diteruskan kepada semua umat manusia. dengan demikian, Yesus Kristus yakni Tuhan, yang menjadi kepenuhan wahyu Allah yang maha tinggi memerintah kepada para rasul supaya injil, yang dahulu telah dijanjikan melalai para nabi. Perintah Allah tersebut dilaksanakan dengan setia oleh para rasul, yang telihat dalam pengajaran lisan mereka ( Kis 2:41-47).
Tradisi yang berasal dari para rasul tidak terlepas dari berkat bantuan Roh Kudus yang berkembang dalam Gereja. Berkembang pula kenyataan-kenyataan maupun kata, kata yang diturunkan, baik karena kaum beriman, yang menyimpan dalam hati serta merenungkannya dan mempelajarinya, karena mereka sungguh mendalami pengalaman-pengalaman rohani mereka. Serta ditegaskan juga dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK), art. 83[4]. Bahwa tradisi yang berasal dari para rasul, yang meneruskan apa yang mereka ambil dari ajaran dan contoh Yesus dan mereka dengar dari Roh Kudus. Dalam usaha itu manusia tidak boleh menutup diri secara tegas berpegang pada adat-kebiasaan, tetapi juga tidak dapat memasukan diri ke dalam arus pembaharuan dengan mengikuti arus begitu saja. Ia tidak dapat menolak kewajiban terhadap masyarakat. Dan ia juga sama sekali tidak dapat menutup panggilan Allah.
Kesimpulan
Dari latar belakang dan pandangan Gereja mengenai Gawai Padi yang merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panen yang telah selesai menurut kebudayaan Dayak Sawe, maka dapat disimpulkan antara adat dan ajaran gereja mempunyai tujuan yang sama yaitu sama-sama menaruh kepercayaan yang sama kepada Tuhan, tetapi tata cara pengungkapan yang dilakukan oleh umat berbeda-beda.




DAFTAR PUSTAKA
Mulya Rudiaji. (2012). Feodalisme & Imperialisme Di Era Global. Jakarta : PT Gramedia.
Katekismus Gereja Katolik. ( 2007). Flores, NTT : Nusa Indah.
Dokumen Konsili Vatikan II. (20013). Jakarta: Obor.
Lembaga Alkitab Indonesia. ( 2014). Jakarta: Obor.

























[1] Rudiaji Mulya, Feodalisme & Imperialisme Di Era Global, (Jakarta : PT Gramedia, 20012), hlm. 133.
[2]  Kis. 2: 41-47.
[3] R. Hardawiryana Sj, DOKUMEN KONSILI VATIKAN II, (Jakarta: OBOR, 2013), Cet. 8, hlm. 332.
[4] K0NFERENSI WALIGEREJA REGIO NUSA TENGGARA, KATEKISMUS GEREJA KATOLIK, (Flores : Nusa Indah, 2007), Cet. III, hlm. 31.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nabi Mikha

Nabi Mikha A.     Mikha Nabi mikha lahir di kampung Moresyet, 30 km di sebelah Barat Daya Yerusalem (bdk. Mik.1:1), yang di sebut juga...