Adat Istiadat
merupakan suatu Kebudayaan atau yang bisa disebut juga dengan peradaban,
ataupun kebiasaan suatu masyarakat khususnya kalangan masyarakat Dayak. Dayak
merupakan salah satu etnis bangsa yang memiliki hak dan perlakuan sama dengan
suku bangsa lain. Dayak merupakan suku bangsa yang memiliki tradisi dan adat
istiadat yang tetap berupaya dilestarikan oleh para pengikutnya.[1]
Hubungan antara manusia dengan dunia secara khusus nyata dalam kebudayaan.
Binatang hanya lah bagian dari alam belaka. Interaksi nya bersifat
determinitis. Jawabannya atas segala aksi dari luar bersifat pasif belaka.
Hewan tidak bertanggung jawab dan tidak membudaya. Fenomena kebudayaan adalah
sesuatu khas insani. Manusia sekaligus bagian dari alam (mater) dan bertransendensi terhadapnya (spirit). Dunia alam menjadi dunia budaya berkat manusia. Proses
peralihan ini di sebut proses humanisasi.[2]
Di kalangan
masyarakat dayak adat istiadat atau kebudayaan merupakan ciri khas dari orang
dayak itu sendiri. Adat merupakan identitas suatu suku dayak yang mempunyai
gagasan-gagasan dan norma-normanya sendiri yang dijunjung tinggi nilai-nilai
dari adat dan kebudayaan tersebut. Pada dasarnya setiap adat istiadat atau
kebudayaan mempunyai arti dan maknanya sendiri bagi masyarakat dayak yang
mereka yakini secara turun temurun yang sudah di warisi dari nenek moyang
mereka sendiri. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Dayak
suku Lebang Nado dalam mengembangkan adat istiadat, tradisi maupun budaya yang
ada disekitarnya dan sudah ada sejak zaman dahulu yang secara turun temurun
masih dilakukan ataupun dijalani oleh penduduk/masyarakat setempat yang masih
percaya dan menganut kepercayaan tentang kebudayaan tersebut. Salah satu
kebudayaan Dayak Suku Lebang Nado, dalam menyambut tamu atau seorang yang
datang ke tempat mereka, yaitu acara Nijak Batu Teluk. Acara Nijak Batu Teluk
adalah simbol atau penghormatan/syukuran ke tamu atau seorang yang berkunjung
atau datang ke tempat mereka (Dayak Lebang Nado). Adat ini biasanya dilakukan
kepada orang-orang yang berkunjung ke kampung atau tempat tersebut dan
orang-orang yang sering di sambut menggunakan adat/kebudayaan tersebut biasanya
adalah seperti seorang Bupati/Camat. Dan biasanya juga adat atau kebudayaan
Nijak Batu Teluk ini di pakai atau gunakan untuk menyamut pengantin baru.
Misalnya pasangan laki-laki yang meminang atau menikahi seorang pasangan
perempuan maka pasangan perempuan yang datang atau sampai di tempat atau
kampung pasangan laki-laki tersebut harus melakukan ritual atau acara Nijak
Batu Teluk tersebut sebagai simbol penghormatan/syukuran terhadap pasangan
tersebut dan dia diterima oleh leluhur (tanah/aik) orang Dayak Lebang Nado.Pada
kenyataannya adat/kebudayaan Dayak Lebang Nado ini sangatlah dijunjung tinggi
sebagai suatu kebiasaan atau penghormatan dalam menyambut tamu yang datang ke
tempat mereka, dan jika dilakukan acara atau ritual adat/kebudayaan tersebut
maka orang yang datang ke tempat mereka adalah sebagai tamu kehormatan/istimewa
dari masyarakat setempat.
Pada umumnya
kebiasaan atau adat yang dilakukan oleh orang Dayak Lebang Nado dalam menyambut
tamu tersebut adalah suatu bentuk pelestarian budaya dari leluhur yang perlahan
mulai dilupakan oleh generasi yang sekarang. Meskipun kebiasaan ini jarang
dilakukan oleh orang Dayak Lebang Nado, tetapi ketika ada penyambutan tamu
seperti orang-orang besar atau orang-orang yang berpengaruh di daerah tersebut
kebiasaan atau adat tersebut dilakukan atau dipakai untuk menerima tamu
seperti: Bupati, Camat, Anggota DPR yang berkunjung atau datang ke tempat
mereka.556. Kesempurnaan pribadi
seutuhnya dan kesejahteraan seluruh masyarakat merupakan tujuan hakiki
kebudayaan,matra etis kebudayaan karenanya merupakan sebuah prioritas dalam
tindakan sosial kaum awam[3].
Dan biasanya kebiasaan itu dilakukan oleh
orang yang lebih tua atau secara pengetahuan lebih memahami tata cara tersebut.
Adapun alat-alat atau perlengkapan yang harus disiapkan adalah berans kuneng
(beras kuning) di taruh/letakan di dalam piring atau mangkok, batu perampeng
(batu ansah), telu’k manuow’k (telur ayam). Dan selanjutnya akan dilaksanakan
ritual tersebut dengan tata cara sebagai berikut: pertama-tama berans kuneng
(beras kuning) ditaburkan ke arah mato ari mati (matahari terbenam) sebanyak 7
kali sambil mengatakan petuah (sampi) sesuai yang ada di adat tersebut, setelah
itu 11 kali ditaburkan ke arah mato ari idop (matahari terbit) sambil melakukan
jampi atau doa, kemudian baru lah menginjakkan kaki ke batu dan telur yang
telah disiapkan.
Selain sebagai
pelestarian adat istiadat/budaya manfaat lainnya juga adalah dari segi sosial,
karena secara adat dan norma-norma terpelihara tentu dalam bentuk sosial
masyarakat setempat dan memperkenalkan kepada generasi muda dan diharapkan
kepada generasi muda untuk melestarikan budaya adat istiadat Nijak Batu Teluk
itu sendiri sehingga kebudayaan itu tetap terjaga dan terpelihara sesuai dengan
harapan dari nenek moyang para masyarakat Dayak Lebang Nado yang telah
melakukan ritual atau kebudayaan dalam menyambut tamu.559. Orang-orang Kristen mesti berusaha sehingga nilai seutuhnya matra
religius kebudayaan dapat terlihat. Ini merupakan sebuah tugas yang sangat
penting lagi mendesak bagi kualitas kehidupan manusia, baik pada ranah
individual maupun pada ranah sosial.[4]
DAFTAR PUSTAKA
Kompendium
Ajaran Sosial Gereja
Muhrotien, Andreas.
2013. Rekonstruksi Identitas Dayak. Hal.
44; TICI Publications, Yogyakarta.
Snijders, Adelbert.2004. Antropologi Filsafat Manusia Paradoks dan Seruan. Hal. 57;
Kanisius, Yogyakarta
[1] Muhrotien, Andreas. Rekonstruksi Identitas Dayak. Hal 44; TICI
Publications, Yogyakarta.
[2] Snijders, Adellbert. Antropologi
Filsafat Manusia Paradoks dan Seruan. Hal 57; Kanisius, Yogyakarta.
[3] Kompendium Ajaran sosial Gereja. 556.
[4] KompendiumAjaran Sosial Gereja. 559.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar