Rabu, 25 Juli 2018

BUDAYA ADAT MOYAS SUKU DAYAK MENTUKA DAN PANDANGAN GEREJA Oleh : Maria Oktaviana


Dayak merupakan sebutan penduduk asli pulau Kalimantan. Pulau Kalimantan terbagi berdasarkan wilayah administratif yang mengatur wilayah masing-masing. Kelompok suku Dayak, terbagi lagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub suku (J. U. Lontaan, 1975). Masing-maising sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat-istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatan dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Etnis Dayak menurut seorang Antropologi J. U. Lotaan, 1975 dalam bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil yang menyebar diseluruh Kalimantan.
Dayak berasal dari kata Daya’ yang artinya Hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat khususnya. Yang kemudian mempunyai kemiripan adat-istiadat, budaya dan masih memegang teguh tradisinya. Salah satu adat dan tradisi di suku Dayak adalah upacara adat Moyas pada suku Dayak Mentuka’ di Kalimantan Barat. Uapacara adat ini merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang suku Dayak Mentuka’. Namun, seiring perkembangan zaman, upacara adat Moyas ini semakin jarang dilaksanakan. Menyikapi hal ini, maka dibuatlah makalah yang mengkaji tentang prosesi pelaksanaan upacara adat Moyas suku Dayak Mentuka’. Mencari tahu kendala dalam pelaksanaan adat Moyas serta solusi agar adat Moyas dapat dipertahankan.
A.    Suku Dayak Mentuka
Dayak Mentuka’ adalah kelompok masyarakat yang bermukim di sepanjang sungai Mentuka’. Jaraknya kira-kira 450 kilometer dari kota Pontianak atau kira-kira 18 kilometer ke arah Selatan dari ibu kota kecamatan Matan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Dayak Mentuka’ dikenal menuturkan bahasa yang disebut bahasa Mentuka’ atau Ntuka’. Bahasa suku ini sepintas lalu serumpun dengan bahasa Koman, Kancikng, dan beberapa bahasa Dayak di kabupaten Sanggau bagian Utara.
Wilayah penyebaran Dayak Mentuka’ umumnya terdapat di sungai Mentuka’ yang bermuara di sungai Sekadau. Ada juga yang bermukim di sungai kecil, cabang sungai Mentuka’ yaitu sungai Kotong. Beberapa kampung di sepanjang sungai ini selain masuk dalam wilayah kecamatan Nanga Taman, juga masuk dalam wilayah kecamatan Nanga Mahap terutama bagian hulu sungai ini. Dalam hal ini, suku Mentuka’ menyebar di dua kecamatan yang meliputi 19 kampung. Jumlah penutur bahasa Mentuka’ adalah 5.394 jiwa. (Surjani Aloy, Institut Dayakologi, 2008: 234).
Dayak Mentuka’ meyakini keturunannya berasal dari kerajaan Majapahit. Keyakinan ini didasarkan pada benda-benda pusaka yang diwarisi mereka hingga saat ini. Benda-benda pusaka itu berupa tanah sekepal, piring, dan keris yang diwariskan kerajaan Majapahit. Benda-benda itu sekarang tersimpan baik di kampung Pantok dan pusakanya mereka puja-puja.
B.     Adat Moyas Suku Dayak Mentuka’
Dalam ritus siklus kehidupan, Dayak Mentuka’ mempunyai adat istiadat ketika seseorang telah melahirkan. Adat-istiadat tersebut dinamakan Moyas yang secara harfiah, adat Moyas ini sebagai bentuk upacara syukur atas kelahiran bayi. Adat ini berlaku di desa Pantuk, kecamatan Nanga Taman, kabupaten Sekadau dan Dayak Mentuka’ pada umumnya.
Proses pelaksanaan upacara adat Moyas dimulai dengan menyiapkan beberapa perlengkapan adat pokok yang meliputi:
1. Tuak, yang tidak ditentukan banyaknya.
2. Dua ekor ayam yang dipotong untuk keperluan adat.
3. Beras yang dimasukkan ke dalam 3 piring yang disusun bertingkat dan diatasnya diletakkan sepotong paha ayam.
4. Mangkuk adat sebanyak 8 poku (24 buah).
5. Sebilah pisau raut.
6. Sehelai kain berwarna hitam.
Selain itu, ada juga perlengkapan atau makanan yang harus dihidangkan kepada para tamu. Diantaranya, lemang yang terbuat dari beras ketan, dimasak dalam ruas bambu dan beras biasa yang juga dimasak dalam ruas bambu. Daging babi atau ayam yang dicampur dengan jahe sebagai lauk.
Sebelum upacara adat dimulai, pihak penyelenggara lebih dulu menyediakan perlengkapan pokok, seperti yang telah ditentukan di atas. Kemudian memberitahukan semua orang yang hadir, khususnya bidan kampung yang menjadi pihak penerima adat, bahwa semua perlengkapan sudah siap.
Upacara adat dimulai dengan do’a yang dipimpin oleh pimpinan umat setempat. Kemudian semua hadirin dipersilahkan menyantap hidangan dan tuak yang telah disajikan. Setelah selesai, barulah ketua adat membagikan perlengkapan pokok yang telah tersedia.
Beras yang di atasnya ada paha ayam dan mangkuk adat sebanyak 12 buah (4 poku), diberikan kepada bidan kampung yang telah membantu proses persalinan. Juga sebilah pisau raut dan sehelai kain berwarna hitam.
Mangkuk juga dibagikan kepada tuan rumah, sebanyak 12 poku (6 buah). Hal ini menandakan antara bidan dan pihak tuan rumah bahwa upacara tersebut telah diselenggarakan, sehingga tidak ada lagi hutang adat dari pihak yang melahirkan terhadap bidan kampung dan masyarakat sekitar.
Mangkuk adat yang sisanya sebanyak 2 poku (6 buah), dibagikan kepada pengurus adat. Setelah itu upacara selesai dan ditutup dengan doa. Upacara adat Moyas biasanya diadakan 7 hari setelah bayi lahir.
Ø  Pandangan  Gereja
Upacara adat moyas merupakan salah satu kebiasaan atau tradisi orang dayak Mentuka’ sebagai ucapan rasa bahagia dan sekaligus bentuk penerimaan atas seorang anak yang baru dilahirkan dan dikaruniakan dalam sebuah keluarga. Upacara adat moyas kalau kita liat dari sudut pandang  Gereja katolik hampir sama dengan pembaptisan yang diberikan kepada calon baptis yang setelah menerima baptisan ia akan dipersatukan menjadi anggota Gereja yang sah. Upacara adat moyas dayak Mentuka’ merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang masih bisa kita lihat sampai hari ini karena kebudayaan ini masih dilestarikan dan merupakan salah satu kebudayaan yang disambut baik dari pihak Gereja.
Gereja katolik menggunakan pembaptisan sebagai bentuk penerimaan anggota baru di dalam Gereja. Gereja katolik menggunakan air sebagai materia dan formanya ialah; “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”,  air sebagai lambang pembasuhan jiwa dan pencurahan Roh Kudus. Yesus sendiri dibaptis dengan air di sungai Yordan. Juga Petrus membaptis keluarga Kornelius dengan air (Kis 10:47). Ketika Yesus berkata kepada Nikodemus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3:5), yang dimaksud adalah kelahiran baru berkat pembaptisan dengan air dan Roh Kudus. Air memang melambangkan Roh Kudus yang menghidupkan (Yoh 7:39). Selain itu air juga melambangkan penyucian atau permandian kelahiran kembali dan pembaruan oleh Roh Kudus (Tit 3:5). Oleh sebab itu upacara adat moyas dayak Mentuka’ dapat diterima dengan baik dari pihak Gereja. Upacara adat moyas dapat kita katakan merupakan upacara pembaptisan bagi suku dayak Mentuka’ yang telah diwariskan secara turun temurun dan mendarah daging dalam diri orang dayak Mentuka’. Hanya ada sedikit perbedaan dari upacara adat moyas dan pembaptisan ialah bahwa dalam upacara adat moyas harus dilakukan paling lambat anak masih dalam umur balita sedangkan pembaptisan bisa diterima bagi segala umur yang mau menjadi anggota Gereja dan mengenal Kristus lebih jauh.
Ø  Pandangan Budaya
Orang dayak Mentuka’ pada dasarnya hidup dari kebudayaan oleh sebab itu tidak bisa lepas dari budaya, salah satu budaya yang masih dilestarikan sampai saat ini ialah upacara ada moyas yang dilakukan oleh keluarga untuk menyambut dan menerima anggota baru dalam keluarga mereka. Budaya ini sebenarnya sama dengan tradisi yang ada di dalam Gereja katolik yaitu untuk menjadi salah satu anggota Gereja seseorang hendaknya melalui proses permandian. Kebudayaan hendaknya bertumbuh dan dilestarikan serta selaras dengan hadirnya Gereja, karena itu kebudayaan harus diterangi oleh injil, sehingga kebudayaan itu bisa dipakai oleh orang kristen dalam terang Kristus. Inilah prinsip Gereja yang harus ditekankan secara maksimal. Gereja harus berjalan selaras dengan kebudayaan dan menerangi kebudayaan itu sendiri. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Kesimpulan
Upacara adat Moyas merupakan upacara adat yang wajib dilaksanakan oleh suku Dayak Mentuka’ sampai hari ini. Seiring perkembangan zaman, upacara adat Moyas boleh dilakukan kapan saja selama anak masih dibawah usia balita. Selain itu, perlengkapan pokok upacara ini adalah ayam, tuak, mangkuk adat, beras, sebilah pisau dan kain hitam dan tidak boleh diganti dengan uang atau benda lain. Upacara adat moyas merupakan salah satu kebiasaan atau tradisi orang dayak mentuka’ sebagai ucapan rasa bahagia dan sekaligus bentuk penerimaan atas seorang anak yang baru dilahirkan dan dikaruniakan dalam sebuah keluarga. Upacara adat moyas kalau kita liat dari sudut pandang  Gereja katolik hampir sama dengan pembaptisan yang diberikan kepada calon baptis yang setelah menerima baptisan ia akan dipersatukan menjadi anggota Gereja yang sah. Upacara adat moyas dayak mentuka’ merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang masih bisa kita lihat sampai hari ini karena kebudayaan ini masih dilestarikan dan merupakan salah satu kebudayaan yang disambut baik dari pihak Gereja. Gereja katolik menggunakan pembaptisan sebagai bentuk penerimaan anggota baru di dalam Gereja. Upacara adat moyas dapat kita katakan merupakan upacara pembaptisan bagi suku dayak mentuka’ yang telah diwariskan secara turun temurun dan mendarah daging dalam diri orang dayak mentuka’. Hanya ada sedikit perbedaan dari upacara adat moyas dan pembaptisan ialah bahwa dalam upacara adat moyas harus dilakukan paling lambat anak masih dalam umur balita sedangkan pembaptisan bisa diterima bagi segala umur yang mau menjadi anggota gereja dan mengenal kristus lebih jauh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nabi Mikha

Nabi Mikha A.     Mikha Nabi mikha lahir di kampung Moresyet, 30 km di sebelah Barat Daya Yerusalem (bdk. Mik.1:1), yang di sebut juga...